BOSS Bidik Pendapatan Naik 300%

Emiten batu bara PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk., (BOSS) menargetkan pendapatan perusahaan pada 2018 naik 3 kali lipat menjadi US$60 juta atau sekitar Rp810 miliar (1US$=Rp13.500)
Hafiyyan | 16 Februari 2018 17:34 WIB
Direktur PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) Widodo Nurly Sumadi (dari kiri), Komisaris Utama Freddy Setiawan, Dirut Freddy Tedjasasmita, Komisaris Johannes Halim, dan Direktur Reza Pranata saat pencatatan perdana saham BOSS di Jakarta, Kamis (15/2). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten batu bara PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk., (BOSS) menargetkan pendapatan perusahaan pada 2018 naik 3 kali lipat menjadi US$60 juta atau sekitar Rp810 miliar (1US$=Rp13.500)

Presiden Direktur BOSS Freddy Tedjasasmita menyampaikan, pada tahun ini perseroan menargetkan pendapatan senilai U$60 juta. Nilai target itu dapat tercapai dari estimasi penjualan batu bara pada 2018 sebesar 800.000 ton.

"Kami targetkan produksi bisa meningkat lebih dari 3 kali lipat dari tahun lalu menjadi 800.000 ton, sehingga menaikkan nilai pendapatan," tuturnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (15/2/2018).

Pada 2017, perusahaan mengestimasi pendapatan sejumlah US$20 juta, atau sekitar Rp270 miliar dengan estimasi nilai tukar 1US$ sama dengan Rp13.500. Per kuartal III/2017 perusahaan membukukan penjualan senilai Rp120,6 miliar dan laba bersih Rp20,8 milar.

Freddy mengungkapkan, untuk memacu penjualan, BOSS berencana menambah produksi melalui PT Pratama Bersama (PB) yang memiliki kualitas batu bara 6.300-6.885 kilo kalori per kilogram (Kcal/kg) pada pertengahan 2018.

Saat ini, perusahaan hanya mengandalkan produksi dari PT Bangun Olahsarana Sukses (BOS). BOS memiliki kualitas batu hitam 6.517-7.128 Kcal/kg. Kendati memiliki kalori tinggi, kandungan sulfur dan abu masing-masing di bawah 0,6% serta 6%.

Di samping menambah konsesi produksi baru, BOSS berencana membangun infrastruktur seperti pelabuhan dan jalan sepanjang 16 kilometer untuk menyatukan semua operasional perusahaan di Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dengan langkah tersebut, perusahaan dapat menghemat biaya transportasi.

"Untuk biaya tongkang kami perkirakan bisa ada penghematan US$5--US$6 per ton," ujarnya.

Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal sekitar Rp70 miliar. Dana itu tentunya bisa didapatkan dari hasil penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO).

Pada Kamis (15/2/2018), BOSS secara resmi menjadi emiten yang kedua melantai di BEI pada tahun ini. Perseroan menawarkan 400 juta saham atau 28,57% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan kepada investor.

Harga penawaran ialah Rp400. Oleh karena itu, perusahaan meraih dana hasil IPO senilai Rp160 miliar.

Menurut Freddy, dana hasil IPO digunakan untuk melunasi utang ke Bank Victoria International Tbk., sebesar Rp50 miliar. Selebihnya perseroan mengalokasikannya ke dalam keperluan ekspansi, seperti penyediaan infrastruktur dan penambahan alat.

Marjin Laba 25%

Direktur BOSS Widodo Nurly Sumady menyampaikan, tahun lalu perusahaan mengantongi pendapatan sekitar US$20 juta. Pada 2018, nilai penjualan diperkirakan meningkat tiga kali lipat menjadi US$60 juta. Adapun, marjin laba bersiih diperkirakan mencapai 25%, atau sekitar US$15 juta.

"Kami targetkan volume penjualan dan pendapatan bisa naik 3 kali lipat, [marjin laba] sekitar 25%," tuturnya.

Per kuartal III/2017 perusahaan membukukan penjualan senilai Rp120,6 miliar dan laba bersih Rp20,8 milar.

Widodo Nurly Sumady menuturkan, perusahaan sudah mengantongi kontrak penjualan sebesar 400.000 ton sampai Juni 2018. Volume tersebut sudah mencapai 50% target produksi tahun ini sejumlah 800.000 ton.

"Kami sudah full booked 6 bulan ke depan. Kami sedangkan negosiasi lagi dengan pembeli untuk setahun ke depan," ujarnya.

Saat ini, komposisi pasar perseroan ialah 60% ekspor ke Jepang, dan 40% dari domestik. Ke depannya, dengan target produksi dan penjualan 800.000 ton, komposisi pasar ekspor dan dalam negeri bisa berimbang 50-50.

Terkait kontrak penjualan, perusahan memakai formula indeks floating. Artinya, harga jual produk BOSS mengikuti tren pergerakan harga jual batu bara global Newcastle.

"Kalau pakai harga fix rugi kita, karena tren harga batu bara naik terus. Bahkan kalau untuk ekspor ke Jepang harga kita bisa di atas HBA [Harga Batu bara Acuan]," paparnya.

Menurut Widodo, konsumen Jepang menyukai batu bara berkalori tinggi, sehingga menjadi pasar utama bagi BOSS. Bahkan, perseroan mendapatkan pendanaan dari pemerintah Negeri Sakura.

Pada 2016, BOSS memiliki kerja sama dengan Japan Oil, Gas & Metal National Corporation (JOGMEC) untuk memasok 2 juta ton batu bara ke pasar Jepang selama 7 tahun. Sebagai gantinya, JOGMEC menginjeksi dana sebanyak US$3 juta untuk dana eksplorasi.

 

Tag : batu bara
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top