Kapas Jadi Komoditas Pertanian Paling Menguntungkan Tahun 2017

Kapas menjadi komoditas yang paling menguntungkan pada tahun ini diantara komoditas pertanian lainnya. Hegde Fund siap memberi keuntungan lebih banyak pada 2018.
Eva Rianti | 31 Desember 2017 14:45 WIB
Petani memanen tanaman kapas. - REUTERS/Amit Dave

Bisnis.com, JAKARTA - Kapas menjadi komoditas yang paling menguntungkan pada tahun ini diantara komoditas pertanian lainnya. Hegde Fund siap memberi keuntungan lebih banyak pada 2018.

Tercatat, pada penutupan perdagangan Jumat (29/12/2017), harga kapas telah mencapai level US$78 sen per pon, naik dari level US$73 sen per pon pada awal tahun.

Dilansir Bloomberg, dari sembilan komponen yang dilacak oleh Bloomberg Agriculture Subindex, hanya kontrak kapas dan gandum yang mendapat keuntungan tahun ini. Kapas memimpin dengan kenaikan 11% seiring dengan permintaan yang tumbuh untuk ekspor AS.

Anggota lain dari Bloomberg Agriculture Subindex - jagung, kedelai, bungkil kedelai, minyak kedelai, gula dan kopi - selesai tahun ini dengan kerugian. Indeks tersebut mencapai rekor terendah pada bulan Desember.

Pakistan dan India, dua negara produsen terbesar di dunia meningkatkan prospek pengiriman ke AS. Data dari pemerintah yang bersangkutan menunjukkan,
"Pada musim 2017/2018, komitmen untuk ekspor kapas AS berjalan 29% lebih tinggi dari tahun Sebelumnya.

Harga ditutup 2017 dengan 10 sesi kenaikan mingguan berturut-turut, beruntun terbaik sejak 1998.

Menurut data Commodity Futures Trading Commissio (CFTC) yang dirilis pada hari Jumat, kapas juga merupakan salah satu dari sedikit tanaman yang mengumpulkan dana lebih positif selama tahun ini dengan memegang posisi net-long mencapai 102.402 futures pada 26 Desember. Angka tersebut naik dari 76.052 pada akhir 2016

Sementara itu, kontrak benchmark tanaman lain seperti jagung, gandum, dan kedelai mencapai posisi net-short 421.450 kontrak pada 26 Desember. Itu yang paling bearish dalam data yang dimulai tahun 2006.

"Keuntungan kapas sangat penting dalam setahun yang sangat suram bagi kebanyakan tanaman lain di tengah glough global yang besar," papar CFTC.

 

Tag : agribisnis
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top