Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

KOMODITAS: Persediaan Timah Turun, Harga Makin Menguat

Harga timah semakin menguat setelah berkurangnya persediaan di China yang mengindikasikan permintaan bakal bertumbuh.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 20 Oktober 2016  |  18:52 WIB
Aktivitas bisnis inti PT Timah - Antara/Maha Eka Swasta
Aktivitas bisnis inti PT Timah - Antara/Maha Eka Swasta

Bisnis.com, JAKARTA - Harga timah semakin menguat setelah berkurangnya persediaan di China yang mengindikasikan permintaan bakal bertumbuh. Dari sisi suplai, Indoneisa sebagai produsen kedua terbesar di dunia membatasi kapasitas ekspor.

Pada penutupan perdagangan Kamis (20/10/2016), harga timah di bursa London Metal Exchange (LME) naik 1,53% atau 300 poin menjadi US$19.925 per ton. Angka tersebut menunjukkan sepanjang tahun berjalan harga timah sudah meningkat 36,89%.

Sementara itu, harga timah di Bursa Shanghai Future Exchange (SFE) pada penutupan kemarin meningkat 0,3% menjadi 129.390 yuan (US$19.202,46) per ton. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 38% sepanjang tahun berjalan.

Melejitnya pamor timah di SFE terjadi akibat menyusutnya produksi dan persediaan seiring dengan aksi penyelematan lingkungan yang memangkas kegiatan penambangan oleh industri. Stok di bursa Shanghai turun menuju 2.419 ton yang menjadi level terendah sejak 1 September 2016.

Sementara itu di gudang LME, pasokan merosot ke 2.995 ton yang merupakan level terkecil sejak 2004. Berkurangnya pasokan di kedua bursa juga disebabkan pembatasan ekspor dari Indonesia sebagai produsen timah kedua terbesar di dunia.

Cui Lin, chief China representative International Tin Research Institute (ITRI), mengatakan penurunan produksi di China membuat negara harus melakukan penyetokan kembali. Namun, suplai diperkirakan bertambah pada kuartal IV/2016, sehingga harga akan menghadapi hambatan yang cukup kuat.

"Selain dari China, pasokan bijih juga datang dari Indonesia dan Myanmar yang naik pada kuartal terakhir. Membaiknya cuaca membantu aktivitas pertambangan. Smelter di China akan berangsur normal setelah selesainya pengecekan lingkungan," tutur Cui seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (20/10/2016).

Standard Chartered menuliskan momentum perekonomian China bakal lebih stabil di sisa tahun ini. Mereka menjaga prediksi PDB China 2016 sebesar 6,8%.

Sentimen ini turut memberikan angin segar bagi komoditas, tak terkecuali timah. Standar Chartered memprediksi harga timah bakal terus bertumbuh dari US$9.875 per ton pada 2016, menjadi US$11.275 per ton dan US$11.500 per ton pada 2017 serta kuartal I/ 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas timah harga timah
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top