Naik 42%, Reli Logam Seng Terhenti

Harga seng menurun dari level tertinggi sejak 15 bulan terakhir seiring menguatnya dolar dan langkah investor yang melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah menguat 42% sepanjang tahun berjalan.
Hafiyyan | 21 Agustus 2016 14:56 WIB
Seng - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga seng menurun dari level tertinggi sejak 15 bulan terakhir seiring menguatnya dolar dan langkah investor yang melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah menguat 42% sepanjang tahun berjalan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (19/8) harga seng di London Metal Exchange (LME) turun 9,5 poin atau 0,41% menjadi US$2.286 per ton. Angka tersebut menunjukkan seng menguat 42,08% sepanjang tahun berjalan.

Sebelumnya, seng sempat mencapai titik terendah di level US$1.468 per ton di awal Januari seiring dengan anjloknya bursa China. Hal tersebut menunjukkan proyeksi melemahnya permintaan dari Negeri Panda.

Peter Thomas, senior vice president Zaner Group LLC, menuturkan dolar menguat menyusul komentar perihal peluang penaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Secara otomatis, harga logam terkoreksi karena harga yang lebih mahal mengurangi tingkat permintaan.

Pada penutupan perdagangan Jumat, indeks dolar naik 0,38% menjadi 94,511. Dalam lima sesi sebelumnya, indeks mencatatkan rapot merah.

Pekan kemarin, Presiden The Fed wilayah San Francisco John Williams menyampaikan ekonomi AS cukup kuat untuk menjamin adanya peningkatan Fed Fund Rate (FFR). Probabilitas pengerekan suku bunga pada Desember 2016 pun menguat.

Presiden The Fed wilayah New York William Dudley juga menyampaikan Paman Sam berpotensi menaikkan FFR secepatnya pada bulan depan. "Pernyataan hawkish mulai memengaruhi pasar, dan ini tercermin dari pergerakan harga," ujar Thomas seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (21/8/2016).

Andrew Silver, analis Triland Metals Ltd., menyampaikan seng juga terkoreksi akibat para investor yang kehabisan daya beli. Pasalnya, harga melejit terlampau tinggi sehingga rentan terhadap aksi profit taking.

ABN Amro dalam publikasi risetnya menyampaikan, harga seng yang naik melebihi 40% cukup rentang terhadap aksi ambil untung. Namun, harga tidak akan berbalik terlampau ekstrem karena dukungan faktor fundamental.

Dari sisi suplai, sejumlah perusahaan sudah mengurangi produksi. Sementara tingkat permintaan, terutama dari China, diprediksi bakal terus bertumbuh.

ABN Amro memprediksi harga seng bakal stabil di level US$2.200 per ton pada kuartal III dan kuartal IV. Rerata harga sepanjang 2016 senilai US$2.010 per ton.

Tag : logam dasar
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top