Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Pengusaha Kaya Garibaldi Boy Thohir Kuasai Batu Bara & Listrik Lewat Adaro

Garibaldi Boy Thohir, bos PT Adaro Energy Tbk. terlihat berbinar-binar. Lelaki 51 tahun itu tengah bercerita mengenai mimpi dan rencana besar setelah perusahaan yang dipimpinnya itu mengambil alih 100% kepemilikan saham IndoMet Coal dari BHP Biliton Pty. Ltd. Australia.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 15 Juni 2016  |  02:16 WIB
Presdir Adaro Energy Garibaldi Boy Thohir saat berkunjung ke redaksi Bisnis Indonesia, Kamis (15/10) - JibiPhoto/Endang Muchtar
Presdir Adaro Energy Garibaldi Boy Thohir saat berkunjung ke redaksi Bisnis Indonesia, Kamis (15/10) - JibiPhoto/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA—Garibaldi “Boy” Thohir, bos PT Adaro Energy Tbk. terlihat berbinar-binar. Lelaki 51 tahun itu tengah bercerita mengenai mimpi dan rencana besar setelah perusahaan yang dipimpinnya itu mengambil alih 100% kepemilikan saham IndoMet Coal dari BHP Biliton Pty. Ltd. Australia.

Sembari menanti waktu buka puasa, Boy yang oleh Forbes disebut memiliki kekayaan sekitar US$650 juta setara dengan Rp8,45 triliun, menuturkan alasan nasionalisme di balik aksi korporasi yang dilakukan anak usaha Adaro, PT Alam Tri Abadi.

Menjadi tuan rumah di negeri sendiri adalah mimpi seorang Boy Thohir.  Dia pelan-pelan mulai mewujudkan semangat nasionalisme yang diusungnya lewat Adaro, yang bisnis utamanya di bidang pertambangan dan kelistrikan.

Manajemen membeli saham IndoMet Coal senilai US$120 juta untuk 75% saham kepemilikan pada 3 Juni 2016. Sebelumnya, Adaro memborong 25% saham IndoMet Coal senilai US$350 juta-US$400 juta pada 2010.

"Ini sebuah pencapaian yang tadinya dimiliki asing, sekarang nasional. Menjadi tuan rumah di negeri sendiri, cuma memang jangan ngomong tuan rumah di negeri sendiri, terus enggak bisa ngapa-ngapain. Kita harus kerja keras, harus belajar," kisahnya.

IndoMet Coal merupakan proyek yang terdiri dari tujuh kontrak karya batu bara yang berlokasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Tambang Haju yang terletak di kawasan Lahai Coal Kontrak Karya, memiliki kapasitas produksi 1 juta ton batu bara per tahun dan telah berproduksi sejak 2015.

Perjanjian jual beli saham tersebut termasuk juga pengambilalihan kepemilikan atas seluruh BHP Mineral Holdings Pty., Ltd., dan BHP Minerals Asia Pasific Pty., Ltd., pada Maruwai Coal, PT Juloi Coal, PT Kalteng Coal, Sumber Barito Coal, Lahai Coal, PT Ratah Coal dan PT Pari Coal.

Konsesi batu bara khususnya cooking coal terbilang berbeda dengan termal coal yang selama ini ada di Indonesia. Umumnya, termal coal dibutuhkan untuk power plant dengan kalori mencapai 6.500 kkal. Sedangkan, cooking coal memiliki kalori lebih dari 8.000 kkal untuk peleburan baja.

Selama ini, dominasi produk cooking coal dikuasai oleh Australia melalui BHP dan Rio Tinto. Sedangkan, di Indonesia, IndoMet Coal yang ditemukan oleh BHP dan Rio Tinto, juga menguasai produk cooking coal.

Saat ingin membeli 25% saham IndoMet Coal, Boy Thohir rela bolak-balik ke Australia untuk menawar kepemilikan saham pada 2010. Ketika itu, harga komoditas batu bara tengah mengangkasa, sehingga Adaro harus merogoh kocek hingga US$400 juta.

Pembelian saham IndoMet Coal itu lantaran keyakinan akan prospek batu bara di Tanah Air bakal moncer. Tapi, apa boleh buat, ternyata industri batu bara pun terperosok, termasuk cooking coal.

"Kami kembali ke bisnis utama termal coal. Makannya Adaro setelah fokus di bisnis batu bara termal," tuturnya.

Proyek cooking coal sempat terhenti lantaran komoditas batu bara suram. Perlahan tetapi pasti, cooking coal IndoMet Coal mulai berproduksi hingga 1 juta ton per tahun, meski realisasi hanya 30.000-40.000 ton per bulan.

Selanjutnya, BHP dan Rio Tinto merasa kesulitan lantaran suramnya pasar komoditas. Mereka pun ingin fokus terhadap pengembangan di dalam negeri. Kepemilikan BHP dan Rio Tinto di IndoMet Coal didivestasi, termasuk kepada Adaro.

Boy menganggap, aset IndoMet Coal merupakan perusahaan batu bara terbaik yang harus dimiliki oleh Indonesia. IndoMet Coal menjadi produsen cooking coal terbaik di dunia, di luar Australia.

Dengan penuh keyakinan, Boy bersama pemegang saham ADRO, memutuskan untuk mengakuisisi seluruh saham IndoMet Coal. Optimisme yang dapat menjadi keyakinan adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5%-7% termasuk prospek kelas menengah yang bakal mencapai 130 juta pada 10 tahun ke depan, pasti akan membutuhkan produk baja yang melimpah.

Produk cooking coal, sangat dibutuhkan oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. dan Posco yang tengah melakukan pengembangan di Kalimantan. Terlebih lagi, pasar ekspor ke China dan Jepang dipastikan sangat tinggi seiring dengan berkembangnya proyek infrastruktur dari produk baja.

Meski terbilang murah, manajemen Adaro terbilang konservatif. Boy yang mengendalikan Adaro bersama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG), itu merogoh kas internal untuk pembelian saham IndoMet Coal.

Dia yakin, pangsa pasar cooking coal masih terbuka lebar di dalam negeri, bahkan dunia. Namun, bagi laba dan rugi Adaro, kinerja IndoMet Coal dinilai baru akan masuk pada 2017 mendatang. Perbandingannya, saat harga termal coal mencapai US$120 per ton, cooking coal mencapai US$250 per ton.

Sementara setelah diakuisisi Adaro, manajemen lama IndoMet Coal juga diproyeksi akan diganti sesuai keinginan. Tidak menutup kemungkinan, The Adaro Way, bakal menjadi fokus baru IndoMet Coal, termasuk sisi kontraktor pertambangannya.

"Ibarat sopir, kalau penumpangnya mengganggu, ya diturunkan saja," katanya.

Tidak hanya IndoMet Coal, Boy juga punya mimpi bagi Indonesia untuk mandiri di sektor kelistrikan. Sebelum ada rencana pemerintah mewujudkan megaproyek 35.000 Megawatt, Boy telah mencetuskan ide 20.000 MW bakal diproduksi oleh Adaro.

Saat itu, Boy memaparkan mimpinya itu kepada para pemegang saham Adaro untuk memasuki bisnis power plant. Nilai tambah batu bara termal hanya dapat dilakukan melalui sektor kelistrikan.

Di samping itu, Indonesia juga memerlukan listrik yang cukup besar, sehingga visi Boy sebagai leader Adaro harus jauh ke depan. "Bukan sok-sokan, tapi kebetulan saja."

Boy ingin menjadi pemain utama sektor kelistrikan dengan menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 20 Gigawatt hingga 2030 mendatang. Investasi megaproyek itu diproyeksi mencapai US$40 miliar setara dengan Rp529 triliun.

Target sebesar 20.000 Megawatt itu dicetuskan 7-8 tahun silam untuk jangka waktu 20 tahun. Sampai saat ini, perseroan telah memiliki proyek setrum hingga 2.600 MW. Bila telah cukup besar, manajemen Adaro menginginkan Adaro Power untuk go public.

Perusahaan sektor kelistrikan sejenis yang telah menggelar penawaran perdana saham (initial public offering/IPO), misalnya PT Cikarang Listrindo Tbk. Financial close yang telah dilakukan untuk PLTU Batang senilai US$4,6 miliar menjadi pembiayaan terbesar Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

Hingga saat ini, Boy Thohir itu belum mengubah rencana. Dia ingin menjadi pemain utama di sektor kelistrikan di Indonesia. Rencana IPO dapat dilakukan sebelum Adaro Power merampungkan proyek hingga 20 GW tersebut.

Pencapaian hingga 20 GW itu dapat dilakukan melalui aksi organik maupun anorganik. Perseroan dapat mengakuisisi PLTU eksisting dengan kepemilikan tidak harus mayoritas.

Untuk membangun PLTU, investasi yang diperlukan mencapai US$1,5 juta hingga US$2 juta setiap 1 MW. Sehingga, total kebutuhan dana untuk mewujudkan mimpi 20 GW itu mencapai US$40 miliar.

Rata-rata, pembangunan PLTU merogoh kas internal maksimum 20%. Sisa kebutuhan dana diperoleh dari pinjaman perbankan dengan pertimbangan mencari mitra dan operator yang kompeten.

Setelah financial close proyek PLTU Batang sebesar 2x1.000 MW, perseroan tengah mengincar tiga power plant dengan kapasitas 3 GW. Proyek tersebut digarap oleh perusahaan konsorsium PT Bhimasena Power Indonesia yang terdiri dari  Electric Power Development Co., Ltd. (J-Power), PT Adaro Power (AP) – Itochu Corporation (Itochu).

Tiga proyek pendukung PLTU 35.000 MW itu a.l. PLTU Tanjung Power Indonesia Kalimantan Selatan berkapasitas 2x100 MW, PLTU Jawa 1 berkapasitas 2x800 MW, dan PLTU Sumatra Selatan 9 dan 10 dengan kapasitas 2x600 MW. Investasi masing-masing senilai US$400 juta, US$3,5 miliar, dan US$2,5 miliar.

Biografi:
Nama : Garibaldi Thohir
Kekayaan: US$605 juta
Umur: 51 tahun
Peringkat: Terkaya ke-42 versi Forbes

 

Gurita bisnis Garibaldi Thohir:
PT Adaro Energy Tbk.
PT Provident Capital
PT Merdeka Copper Gold Tbk.
PT Sumatra Copper & Gold
PT Wahana Ottomitra Multi Artha Tbk.
PT Wahana Makmur Sejati (Grup Wahana Artha)
PT Allied Indocoal
PT Alam Tri Abadi
PT Adaro Indonesia
PT Semesta Centramas
PT Laskar Semesta Alam
PT Paramitha Cipta Sarana
PT Adaro Power
PT Mustika Indah Permai
PT Bukit Enim Energi
PT Bhakti Energi Persada
PT Adaro Persada Mandiri
PT Rehabilitasi lingkungan Indonesia
PT Agri Multi Lestari
PT Adaro Strategic Investments
PT Adaro Strategic Lestari
PT Adaro Strategic Capital
PT Viscaya Investments
PT Biscayne Investments
PT Dianlia Setyamukti
PT Surya Esa Perkasa Tbk.
PT Trinugraha Thohir


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

adaro garibaldi thohir
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top