Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Investor Bernafsu Buru Global Bond Indonesia

Minat investor terhadap global bond yang diterbitkan Indonesia rupanya besar. Pemerintah mampu mendulang emisi US$4 miliar dan menekan imbal hasil obligasi valuta asing berdenominasi dolar AS itu.

Bisnis.com, JAKARTA – Minat investor terhadap global bond yang diterbitkan Indonesia rupanya besar. Pemerintah mampu mendulang emisi US$4 miliar dan menekan imbal hasil obligasi valuta asing berdenominasi dolar AS itu.

Dalam transaksi yang ditutup pada Jumat, (9/1/2015) atau Kamis (8/1/2015) waktu New York, permintaan investor mencapai US$19,3 miliar atau berlebih permintaan (oversubscription) sebanyak 4,8 kali. Pemerintah lantas menyerap US$4 miliar. Rinciannya, RI0125 bertenor 10 tahun berniai emisi US$2 miliar dan RI0145 bertenor 30 tahun bernilai emisi US$2 miliar.

Tidak hanya kebanjiran permintaan, global bond Indonesia mampu mendulang imbal hasil yang lebih rendah dari imbal hasil awal. RI0125 berimbal hasil 4,2% dengan tingkat kupon 4,125%. Imbal hasil tersebut lebih rendah 30 bps dari initial price guidance yaitu 4,5%. Adapun, RI0145 berimbal hasil 5,2% dengan tingkat kupon 5,125%. Imbal hasil tersebut lebih rendah 30 bps dari initial price guidance 5,5%.

Anup Kumar, Analis Bank International Indonesia, mengatakan imbal hasil tersebut menguntungkan untuk pemerintah karena pemerintah dapat menekan cost of fund dari prediksi awal. Meski sudah terdiskon, rupanya investor masih tertarik membeli global bond.

“Investor tertarik karena imbal hasil masih berada di sekitar harga pasar, meski sudah didiskon,” ucap Anup kepada Bisnis, Jumat, (9/1).

Sehari sebelum transaksi, di pasar imbal hasil global bond Indonesia bertenor 10 tahun berada di posisi 4,112%, sedangkan bertenor 30 tahun di level 5,146%.

Menurut Anup, investor tertarik dengan global bond Indonesia karena investor masih optimistis terhadap membaiknya defisit transaksi berjalan, stabilnya iklim politik dan ekonomi dan Indonesia, dan risiko dari isu-isu global. Investor memperhatikan isu penaikan suku bunga acuan AS dan pemulihan ekonomi AS yang berefek ke pergerakan imbal hasil US Treasury.

Pertimbangan lain yakni credit default swap (CDS) Indonesia yang tercermin dari pasar obligasi dalam negeri. Pada 8 Januari 2015 imbal hasil SUN bertenor 10 tahun turun 5,8 bps dari hari sebelumnya ke posisi 8,024%. Adapun, imbasl hasil SUN bertenor 30 tahun merosot ke posisi 1,75 bps ke posisi 8,5629.

Jika dibandingkan dengan global bond Filipina yang lebih dulu terbit dari global bond Indonesia, imbal hasil yang ditawarkan Indonesia lebih menarik, meski peringkat Indonesia di bawah Filipina.

“Peringkat kita berbeda hanya satu notch, berbeda tipis. Ketika peringkat berbeda tipis dan imbal hasil Indonesia cukup lebih tinggi dari Filipina, investor pasti memilih global bond Indonesia,” tutur Anup.

Indonesia memperoleh peringkat BBB- (stabil) dari Fitch, BB+ (stabil) dari S&P, dan Baa3 (stabil) dari Moody's. Sementara, Filipina meraih peringkat BBB- dari Fitch dan BBB dari S&P serta Baa2 dari Moody’s. 

Pada Rabu, (7/1), pemerintah Filipina menerbitkan surat utang berdenominasi dolar AS senilai US$2 miliar dengan tenor 25 tahun. Kupon sebesar 3,95%, lebih rendah dari indikasi awal 4,2%. Ini kupon terendah global bond yang diterbitkan Filipina.

Budi Susanto, Head of Debt Capital Market PT Danareksa Securities, menilai berlebihnya permintaan terhadap penerbitan global bond Indonesia mengindikasikan masih besarnya minat investor terhadap obligasi Indonesia dan masih nyaman dengan profil risiko Indonesia.

“Dan [permintaan] merata, dari Eropa, Asia, dan AS. Eropa karena lagi program stimulus makanya banyak uang, minat AS juga besar ternyata,” kata Budi.

Danareksa Securities bersama dengan PT Bahana Securities dan PT Mandiri Sekuritas bertindak sebagai co-Managers global bond Indonesia. Joint Lead Managers dan Joint Bookrunners yakni Citigroup, The Hongkong and Shanghai Banking Corporation, dan Standard Chartered Bank.

Sebanyak 48% distribusi emisi seri RI0125 ke investor AS, 24% investor Eropa, 15% investor Asia (di luar Indonesia), dan 13% investor di Indonesia. Berdasarkan jenis investor, alokasi penawaran yang diterima kepada asset managers sebesar 73%, bank 14%, asuransi/dana pensiun 9%, private banks 2%, dan sovereign wealth funds 2%.

Adapun, distribusi seri RIOI45 sebesar 53% untuk investor AS, 23% untuk investor Eropa, 20% untuk investor Asia (di luar Indonesia), dan 4% untuk investor di Indonesia. Berdasarkan jenis investor, alokasi penawaran yang diterima kepada asset managers sebesar 75%, bank 8%, asuransi/dana pensiun 13%, private banks 2%, dan sovereign wealth funds 2%.

“Kalau dibandingkan dengan serapan investor domestik pada global bond tahun ini dan tahun lalu, minat investor domestik meningkat, tapi porsi asing masih tetap besar,” tutur Budi kepada Bisnis, Jumat. (9/1).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper