Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi AS Membaik, Harga Minyak Menanjak

BISNIS.COM, NEW YORK- Data ekonomi di Amerika Serikat yang membaik pada Kamis (Jumat pagi WIB), memicu harapan permintaan kuat di ekonomi terbesar dunia itu, sehingga mendorong harga minyak lebih tinggi.Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet
- Bisnis.com 14 Juni 2013  |  05:51 WIB

BISNIS.COM, NEW YORK- Data ekonomi di Amerika Serikat yang membaik pada Kamis (Jumat pagi WIB), memicu harapan permintaan kuat di ekonomi terbesar dunia itu, sehingga mendorong harga minyak lebih tinggi.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, naik 81 sen menjadi ditutup pada US$96,69 per barel.

Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli menetap di IS$104,24 per barel, naik 76 sen dari Rabu.

Penjualan ritel AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada Mei, sebuah sinyal positif untuk belanja konsumen yang menyumbang sebagian besar kegiatan perekonomian.

Klaim manfaat asuransi pengangguran turun pada pekan pertama Juni, menunjukkan berlanjutnya pemulihan lambat di pasar pekerjaan.

"Kami pikir kami akan sedikit melambat memasuki musim panas, tetapi hari ini memberikan lebih banyak optimisme," kata Carl Larry dari Oil Outlooks and Opinions.

Larry mencatat bahwa Amerika Serikat, sebagai konsumen minyak terbesar, adalah penggerak harga terbesar.

"Ketika AS memiliki beberapa kekuatan, itulah yang akan mendorong harga naik, terlepas dari apa yang kita lihat pada permintaan global," katanya.

Harga minyak berjangka telah dibuka lebih rendah setelah Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi globalnya untuk 2013 ke tingkat tahunan sebesar 2,2%, terutama karena resesi zona euro. Dalam perkiraan Januari, pertumbuhan diperkirakan pada 2,4%.

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan untuk ekonomi China tahun ini menjadi 7,7% dari 8,4%, memperingatkan potensi perlambatan "tajam" dipicu oleh penurunan investasi.

Sebuah aksi jual ekuitas di Asia, dengan Nikkei di Jepang terjun lebih dari enam persen ke wilayah "bear market" (pasar lesu), memperkuat kembali kekhawatiran pasar tentang perlambatan pertumbuhan global, termasuk di negara-negara berkembang.

Andy Lipow dari Lipow Oil Associates mencatat bahwa Badan Energi Internasional (IEA) dan Bank Dunia telah menurunkan proyeksi permintaan minyak global mereka.

"Akibatnya itu menyiratkan bahwa lebih sedikit minyak akan dibutuhkan dari OPEC, yang sekarang memproduksi pada tertinggi tujuh bulan," kata Lipow.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank dunia minyak brent harga emas wti data ekonomi as

Sumber : Antara/AFP

Editor :
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top