Bapepam-LK akan turunkan porsi penjatahan terpusat

JAKARTA: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan mempertimbangkan untuk menurunkan alokasi penjatahan terpusat menjadi di bawah 20% dari rencana awal sebanyak 20% dari total porsi saham yang dilepas ke publik, seiring adanya keberatan dari pelaku
Yoseph Pencawan - nonaktif
Yoseph Pencawan - nonaktif - Bisnis.com 04 Desember 2011  |  11:40 WIB

JAKARTA: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan mempertimbangkan untuk menurunkan alokasi penjatahan terpusat menjadi di bawah 20% dari rencana awal sebanyak 20% dari total porsi saham yang dilepas ke publik, seiring adanya keberatan dari pelaku pasar.Tidak hanya itu, Otoritas Pasar Modal juga akan mempertimbangkan masukan dari pelaku pasar terkait mekanisme pembatalan penjatahan ganda dalam penawaran saham perdana.Dalam draf revisi peraturan IX. A. 7 tentang Tanggungjawab Manajer Penjatahan Dalam Rangka Pemesanan dan Penjatahan Efek dalam Penawaran Umum, Bapepam ingin membatasi porsi penjatahan pasti (fix allotment) yaitu maksimal 80% dari jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran umum. Ini berarti porsi penjatahan terpusat (pooling) bisa mencapai 20%, lebih tinggi dari praktik saat ini sekitar 3%-5% dari total saham yang dilepas kepada publik.Sementara itu, jika jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO minimal 40% (termasuk jatah bagi pegawai emiten), porsi penjatahan dibatasi maksimal 95% dari jumlah saham yang ditawarkan. Itu artinya, porsi pooling hanya 5% dari total saham yang dilepas kepada publik.Draf revisi beleid tersebut juga secara tegas mengatur pembatalan semua penjatahan ganda dalam penawaran umum saham perdana.Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam- LK Gontor Ryantori Azis mengatakan pada akhir pekan lalu sejumlah pelaku pasar telah menyampaikan masukan awal terkait draf revisi aturan IX. A. 7. "Senin [hari ini] secara resmi kami akan bertemu dengan pelaku pasar dan Asosiasi untuk membicarakan ini lagi," katanya,kemarin.Dalam pertemuan tersebut, terangnya, pelaku pasar menyatakan keberatannya terhadap ketentuan pembatasan porsi fix allotment maksimum 80% karena sebenarnya dalam fix allotment tersebut telah mengakomodir porsi investor ritel. "Menurut mereka, stigma selama ini bahwa fix allotment itu nggak ada ritel, itu nggak benar," ungkap Gontor.Selain itu, sambungnya, besarnya porsi pooling juga dinilai akan memberikan dampak ekonomi kepada penjamin pelaksana emisi (underwriter). "Menurut mereka, jika porsi pooling terlalu besar ini akan memengaruhi harga pada saat listing perdana karena pada umumnya investor ritel akan jual pada hari pertama listing," jelas Gontor.Terkait dengan draf revisi aturan tentang pembatalan semua penjatahan ganda, sambung Gontor, ada kekhawatiran dari pelaku pasar ketentuan tersebut dijadikan modus oleh investor untuk membatalkan pemesanan mereka pada saat investor tidak yakin terhadap kondisi pasar. "Artinya, investor sengaja melakukan pemesanan ganda untuk menjustifikasi pembatalan pemesanan mereka karena mereka tidak yakin dengan kondisi pasar," tambahnya.Lebih lanjut, Gontor mengatakan semua masukan tersebut akan dipertimbangkan oleh Bapepam pelaksanaan revisi peraturan IX. A. 7 yang ditargetkan selesai pada bulan ini. "Semuanya akan kami tampung," ujarnya.Direktur Utama PT HD Capital Tbk yang juga merupakan salah satu Komite Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia, Antony Kristanto, mengatakan revisi aturan tersebut harus dirumuskan berdasarkan prinsip win-win solution dan melibatkan semua pihak. "Jika ada pemesanan ganda, sebaiknya tidak dibatalkan semuanya seperti dalam ketentuan penawaran umum obligasi," ujarnya.Direktur Investment Banking Evergreen Capital Rudy Utomo sebelumnya juga mempertanyakan mekanisme pembatalan jika pemesanan ganda terjadi pada fix allotment.“Kalau investornya pesan dobel di pooling mungkin bisa dibatalkan semua karena bisa menarik investor diantrean berikutnya, tapi kalau pemesanan gandanya di fix allotment akan sangat sulit,” terangnya.Menurutnya, jika pemesanan pada fix allotment dibatalkan karena ditemukan adanya pemesanan ganda, hal tersebut akan memengaruhi porsi fix allotment yang telah ditetapkan dalam prospektus IPO emiten.Sementera itu terkait porsi pooling yang diperbesar, Rudy menilai ketentuan tersebut dapat memengaruhi harga listing perdana dan pada ujungnya berdampak kepada kredibilitas underwriter."Investor ritel akan langsung melepas saham di hari pertama ketika harga sudah di atas harga IPO, Kami sebagai penjamin emisi serba salah, kalau harga jatuh, nanti kami tidak dipakai lagi," ujarnya. (faa) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top