Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham Emiten Nikel Mengilap Tersengat Rumor IPO & Manuver Danantara

Saham emiten nikel menguat dipicu rumor IPO anak usaha MDKA dan manuver Danantara dalam proyek nikel dengan GEM Limited. Harga nikel di LME juga naik.
Warga memantau pergerakan saham di layar telepon pintar di Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/5/2025). Bisnis/Abdurachman
Warga memantau pergerakan saham di layar telepon pintar di Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/5/2025). Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah sentimen mewarnai pergerakan saham emiten berbasis nikel yang mencatat penguatan dalam dua hari terakhir. Rumor penawaran umum perdana hingga rencana aksi Danantara Indonesia menjadi faktor pemicu. 

Harga nikel di London Metal Exchange (LME) bergerak menguat tipis pada perdagangan Kamis (28/8/2025). Kontrak nikel 3 bulan tercatat di level US$15.165 per ton, naik 0,19% atau 29 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di US$15.131.

Adapun kontrak Oktober 2025 juga mengalami penguatan tipis sebesar 0,03% ke US$15.065 per ton, dari penutupan sebelumnya US$15.059,88. Sementara itu, kontrak November 2025 naik lebih tinggi yakni 0,41% menuju US$15.180 per ton.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham berbasis nikel kompak terapresiasi. Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) menguat 7,35% menjadi Rp1.095, dan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) naik 5,02% ke level Rp2.510. 

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebutkan bahwa kenaikan harga saham MDKA dipicu oleh rumor rencana initial public offering (IPO) anak usaha perseroan yang mengelola proyek Pani di Gorontalo. 

“Anak usaha MDKA yang mengelola proyek emas PANI dikabarkan segera IPO pada September 2025. Proyek emas Pani yang berlokasi di Gorontalo memiliki estimasi cadangan 7 juta ounces dan target produksi 140.000 ounces per tahun,” ujar Nafan.

Berdasarkan laporan MDKA, penyelesaian proyek Pani telah mencapai 67% hingga akhir Juni 2025 dengan seluruh rekayasa detail dan proses pengadaan sudah selesai. 

Selain itu, fasilitas pelabuhan untuk mendukung logistik juga sudah beroperasi. Adapun, pembangunan tangki penyimpanan bahan bakar juga telah rampung guna memastikan kesiapan suplai energi untuk tahap operasional. 

MDKA memastikan proses komisioning masih sesuai jadwal dan ditargetkan berlangsung pada akhir 2025. Setelah itu, perseroan akan memulai ramp-up produksi dengan target hasil emas perdana pada kuartal pertama 2026.

Melansir laman resmi MDKA, tahap awal akan menggunakan metode pengolahan heap leach, sebelum beralih ke carbon-in-leach (CIL). Pada puncak produksi, Pani diperkirakan mampu menghasilkan hingga 500.000 ounces emas per tahun. 

KATALIS DANANTARA

Di sisi lain, Nafan menyatakan kenaikan saham berbasis nikel juga dipicu oleh manuver Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia dalam memacu pengembangan proyek nikel di Indonesia. Hal ini mewujud dari kerja sama Danantara Investment Management dengan GEM Limited, perusahaan publik asal China. 

Kesepakatan tersebut menjadi kerangka kerja bagi potensi investasi bersama dalam pembangunan fasilitas peleburan High-Pressure Acid Leach (HPAL) berkapasitas 66.000 ton nikel dalam endapan hidroksida campuran (MHP) per tahun. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai US$1,42 miliar atau sekitar Rp23,24 triliun.

“Langkah tersebut memberikan katalis positif bagi Indonesia dalam rangka mendukung pembangunan ekosistem berbasis kendaraan listrik dan memperkuat metalurgi di bidang green economy,” ujar Nafan. 

Menurutnya, dengan adanya investasi dan transfer teknologi, Indonesia berpotensi mampu menghasilkan produk bernilai tambah. Secara praktis, hal ini pun tecermin dari kenaikan harga saham nikel, seperti NCKL, HRUM, dan sebelumnya INCO.

Untuk diketahui, pembangunan fasilitas HPAL berkapasitas 66.000 ton nikel itu akan melibatkan emiten BUMN, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) serta mitra global lainnya.

Kabar ini lantas menyengat harga saham INCO hingga naik 6,08% pada perdagangan Rabu (27/8). Akan tetapi, saham anggota holding MIND ID tersebut kemudian merosot 1,04% menuju level Rp3.800 seiring dengan aksi ambil untung. 

Sharon Natasha, Research Retail Analyst CGS International Sekuritas Indonesia, menuturkan bahwa selain dipicu oleh aksi Danantara, sentimen positif INCO juga datang dari persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Persetujuan itu memungkinkan perseroan untuk menjual 2,2 juta ton bijih saprolite dari tambang Bahodopi, Sulawesi Tengah, mulai Juli 2025. Aksi tersebut juga diproyeksikan mendorong kinerja keuangan pada semester II/2025.

“Artinya ini ada potensi untuk kinerja INCO  terdongkrak pada semester II/2025, karena dari sisi penjualan bijih saprolite,” pungkas Sharon.

Halaman
  1. 1
  2. 2
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro