Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indeks Dow Jones & Nasdaq Menguat, Bursa Asia Berguguran Diterpa Kebijakan Trump

Indeks Dow Jones dan Nasdaq terpantau menguat setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru, sementara bursa di kawasan Asia berguguran
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Dow Jones dan Nasdaq terpantau menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru untuk mitra dagangnya pada Rabu sore (2/4/2025) waktu setempat. Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia berguguran.

Berdasarkan data RTI Infokom, Kamis (3/4/2025), Indeks Dow Jones menguat 0,56% menuju level 42.225,32 dan Nasdaq mencatat kenaikan sebesar 0,87% ke 17.601,05. 

Sementara itu, bursa Asia kompak memerah. Nikkei 225 Index misalnya, melemah 2,77% menjadi 34.735,89. Adapun Hang Seng Index di Hong Kong melemah 1,52%, Shanghai Composite Index turun 0,24% dan Strait Times melemah 0,30%. 

Adapun pasar saham dan mata uang Asia Tenggara juga bergejolak setelah Trump menetapkan kebijakan tarif impor timbal balik (reciprocal tariff) terhadap sejumlah negara, mulai dari Vietnam, Thailand, hingga Indonesia.

Mengutip laporan Bloomberg, indeks saham utama Vietnam turun hingga 6,2%. Angka tersebut menjadi penurunan harian terbesar selama lebih dari empat tahun. Saham di Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura juga mencatat pelemahan.

Sementara itu, nilai tukar baht Thailand melemah hingga 0,8% terhadap dolar AS, diikuti oleh dong Vietnam dan ringgit Malaysia yang juga mengalami penurunan.

Aset di Asia Tenggara terguncang setelah pengumuman tarif timbal balik ini. AS kini menerapkan tarif impor sebesar 46% untuk Vietnam, 36% untuk Thailand, dan 32% untuk Indonesia. Adapun mitra dagang terbesar kawasan ini, China, menghadapi tarif kumulatif sebesar 54%.

“Ekonomi Asean akan menghadapi hambatan besar dalam beberapa bulan ke depan akibat kenaikan tajam tarif AS terhadap ekspor mereka,” ujar Homin Lee, ahli strategi makro senior di Lombard Odier Ltd., Singapura. 

Menurutnya, belum ada kejelasan sampat saat ini apakah pemerintah di Asia Tenggara dapat menegosiasikan penurunan tarif secara signifikan dengan tim Donald Trump.

Ekonomi Asia Tenggara memang rentan terhadap tarif AS karena negara-negara di kawasan ini masuk dalam daftar mitra dagang utama AS seperti Singapura, Vietnam, Thailand, dan Filipina.

Vietnam, yang sebelumnya mencoba merayu pemerintahan Trump sebelum pengumuman tarif, juga tidak luput dari kebijakan proteksionis AS.

Padahal, negara tersebut bergantung pada perdagangan, dengan ekspor mencapai hampir 90% dari total output ekonomi. Vietnam juga merupakan mitra dagang AS dengan surplus perdagangan terbesar sehingga menjadi target utama penerapan tarif impor tinggi.

Kepala Pialang Institusional di SBB Securities Corp, Nguyen Anh Duc, mengatakan bahwa panic selling di pasar saham bukanlah hal yang mengherankan. Hal ini tak lepas dari besaran tarif yang lebih besar dari estimasi investor lokal di angka 10% hingga 15%.

“Jika harga saham turun 10% lagi, kami bisa melihat tekanan margin call yang lebih besar,” pungkas Nguyen Anh Duc dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, pasar saham di Singapura dan Malaysia memangkas kerugian sebelumnya karena kedua negara hanya dikenakan tarif lebih ringan. Adapun pasar saham Indonesia ditutup hingga 7 April 2025 karena libur nasional Lebaran.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper