Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah indeks utama Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Selasa (2/4/2025) waktu setempat di tengah ketidakpastian. Investor masih menanti kepastian menjelang pengumuman tarif baru pemerintahan Presiden Donald Trump.
Pasar keuangan Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa pekan terakhir karena investor terus menganalisis dampak ekonomi dari kebijakan tarif Trump. Rencana penerapan tarif tersebut telah memicu kekhawatiran akan perlambatan ekonomi serta meningkatnya inflasi di Amerika Serikat.
Ketidakpastian pasar ini diperkirakan akan mereda setelah Trump mengumumkan kebijakan tarifnya pada Rabu, 2 April 2025. Trump dijadwalkan berbicara dalam sebuah acara di Rose Garden Gedung Putih pada pukul 16:00 EDT.
Garrett Melson, ahli strategi portofolio di Natixis Investment Managers Solutions, dikutip Reuters, mengatakan bahwa sentimen pasar masih lemah dan posisi investasi relatif ringan. Ia menambahkan bahwa pasar kemungkinan besar tidak akan mendapatkan kejelasan yang diharapkan.
Menurutnya, meskipun tarif menjadi topik utama pembicaraan, kondisi ekonomi yang tidak berjalan optimal menjadi persoalan yang lebih besar. Akibat ketidakpastian ini, banyak investor memilih untuk menunggu dan tidak mengambil keputusan besar dalam perdagangan mereka.
Sepanjang sesi perdagangan Selasa, indeks utama Wall Street bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup menguat. S&P 500 naik 21,22 poin atau 0,38% menjadi 5.633,07, sedangkan Nasdaq Composite menguat 150,60 poin atau 0,87% menjadi 17.449,89. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average melemah tipis 11,80 poin atau 0,03% menjadi 41.989,96.
Kenaikan Nasdaq dan S&P 500 didorong oleh pemulihan saham-saham teknologi yang sebelumnya mengalami tekanan besar di awal tahun. Tesla memimpin kenaikan dengan lonjakan 3,6% menjelang laporan pengiriman kendaraan kuartal pertama yang dijadwalkan pada Rabu. Saham teknologi lainnya seperti Amazon, Microsoft, dan Meta Platforms juga menguat antara 1 hingga 1,8%.
Namun sektor kesehatan dan maskapai penerbangan memberikan tekanan terhadap S&P 500. Saham Johnson & Johnson mengalami penurunan tajam sebesar 7,6% sehingga menjadi saham paling boncos dalam indeks.
Pelemahan ini terjadi setelah pengadilan tata niaga AS menolak proposal penyelesaian senilai US$10 miliar untuk mengakhiri ribuan gugatan hukum terkait produk bedak bayi mereka yang diduga menyebabkan kanker ovarium. Akibatnya, sektor kesehatan secara keseluruhan turun 1,8% dan menjadi sektor dengan kinerja terburuk di antara 11 sektor S&P.
Sementara itu, saham maskapai penerbangan juga mengalami tekanan setelah analis dari Jefferies menurunkan peringkat saham-saham di sektor ini karena kekhawatiran bahwa ketidakpastian ekonomi dapat mengganggu permintaan perjalanan bisnis dan ritel. Saham Delta Air Lines turun 2,4%, American Airlines melemah 3,8%, dan Southwest Airlines merosot hingga 5,9%.
Volume perdagangan di bursa AS pada Selasa mencapai 15,09 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 15,83 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.