Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan bank emas atau bullion bank, pada hari ini, Selasa (26/2/2025). Di balik bisnis logam mulia di Tanah Air ada sosok konglomerat pemilik korporasi penambangan maupun pengolahan emas.
Bank Emas atau bullion bank merupakan inisiatif yang bertujuan untuk memanfaatkan potensi besar emas Indonesia dan mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah.
Bullion bank dibentuk dengan payung hukum Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang disahkan pada 12 Januari 2023. Aturan ini kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bulion.
Dalam regulasi teknis itu, OJK menetapkan bahwa kegiatan usaha bullion hanya boleh dilakukan oleh lembaga jasa keuangan dengan cakupan 4 usaha utama meliputi simpanan emas, pembiayaan emas, perdagangan emas, dan penitipan emas.
Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa dengan reserve emas nomor 6 terbesar di dunia.
Kemilau bisnis emas di Indonesia turut menjadi magnet bagi para konglomerat di Indonesia melalui berbagai entitas bisnisnya.
Berdasarkan penelusuran Bisnis, sejumlah konglomerat yang memiliki lini bisnis emas, yaitu Aburizal Bakrie dan Anthoni Salim melalui PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), Garibaldi Thohir dan Edwin Soeryadjaya melalui PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan Peter Sondakh melalui PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI).
Selain itu, keluarga Panigoro terafiliasi dengan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), Arsjad Rasjid melalui PT Indika Energy Tbk. (INDY), dan Grup Astra memiliki saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) melalui PT Agincourt Resources.
Aburizal Bakrie
Sayap bisnis penambangan dan produksi emas Aburizal Bakrie berada di bawah bendera PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS). BRMS merupakan anak usaha emiten tambang batu bara PT Bumi Resources Tbk. (BUMI). Di sisi operasional, BRMS meningkatkan kinerja operasional melalui peningkatan produksi emas pada 2023 menjadi sebesar 724 kg (23,270 oz) pada 2023. Capaian itu naik 330% dibandingkan tahun 2022, sebesar 174 kg (5,415 oz).
Sementara itu, produksi emas BRMS sepanjang Januari—September 2024 melonjak 176% dari 551 kg (16.437 ons) pada 9 bulan 2023 menjadi 1.411 kg (45.366 ons). BRMS juga mencatat lonjakan rata-rata harga jual emas dari US$1.914 per ons pada 9 bulan 2023 menjadi US$2.347 per ons pada 9 bulan 2024.
Anthoni Salim
Konglomerat Grup Salim itu memiliki afiliasi di BRMS. Berdasarkan penelusuran Bisnis, Grup Salim juga disebut-sebut telah masuk ke saham BRMS pada 2021.
Grup Salim disebut menggunakan Emirates Tarian Global, perusahaan cangkang yang beralamat di Pulau Cayman, untuk baru masuk menjadi pemegang saham BRMS semenjak April 2021 lalu melalui rights issue melonjak menjadi entitas pemegang saham terbesar baru.
Saat rights issue April 2021 lalu, Emirates Tarian Global masuk dengan kepemilikan 10,33%. Jumlah itu kemudian dikerek menjadi 12,33%. Tidak ada cukup informasi mengenai identitas Emirates Tarian Global kecuali SPV ini pernah menjadi pemegang saham perusahaan jalan tol dalam kota PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP). Gosip pasar menyebutkan entitas ini merupakan kendaraan kelompok Salim.
Garibaldi Thohir dan Edwin Soeryadjaya
Garibaldi ‘Boy’ Thohir merupakan pemilik 1.826.062.554 saham MDKA atau setara dengan 7,46%. Sementara itu, kepemilikan saham Edwin Soeryadjaya di MDKA dimiliki secara tidak langsung melalui PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) yang menguasai 19,4% saham MDKA. Sebagai informasi, Edwin menggenggam 35,8% saham SRTG.
Di sisi kinerja operasional, MDKA merealisasikan volume produksi emas sebanyak 138.666 ons pada 2023. Capaian itu lebih tinggi 16% dibanding produksi emas pada 2024 sebanyak 115.867 ons. Pada saat yang sama, volume penjualan emas MDKA mencapai 129.867 ons pada 2023 dan 108.471 ons pada 2024. Adapun, rata-rata harga jual emas MDKA tercatat naik dari US$1.939 per ons menjadi US$2.371 per ons pada 2024.
Arsjad Rasjid
Arsjad Rasjid merupakan Direktur Utama PT Indika EnergyTbk. (INDY). Di sisi lain, Arsjad juga mengantongi 1.208.000 saham atau 0,02% saham INDY dengan kepemilikan langsung. Di tengah strategi diversifikasi, INDY melakukan akuisisi secara bertahap terhadap proyek tambang emas greenfield Awakmas mulai Desember 2018 dan dimiliki sejak Oktober 2021.
Proyek ini berlokasi di Sulawesi Selatan sekitar 370 kilometer dari Makasar. Berdasarkan data INDY, proyek Awakmas memiliki sumberdaya potensial mencapai 2,29 juta onz dan cadangan potensial sebesar 1,45 juta onz. Sementara itu, kandungan emas diperkirakan mencapai 1,33 gram per ton. Di sisi lain, INDY memegang kontrak karya yang diperbarui pada Maret 2018 sampai dengan 2050 mendatang.
Adapun, total produksi emas dari proyek ini diperkirakan mencapai 100.000 oz per tahun. Proyek tambang emas Awakmas ditargetkan mulai berproduksi pada tahun depan. Perkiraan total investasi untuk pengembangan blok tambang Awakmas mencapai US$429 juta hingga 2026. Adapun, INDY telah menghabiskan dana sebesar US$238,9 juta per September 2024.
Peter Sondakh
Peter Sondakh merupakan pemilik PT Rajawali Corpora. Entitas usaha itu merupakan pengendali emiten penambang emas PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) dengan kepemilikan saham sebanyak 21.109.650.000 atau 85%.
ARCI melantai di Bursa Efek Indonesia pada 28 Juni 2021 setelah merampungkan initial public offering (IPO) senilai Rp2,79 triliun. Dana itu merupakan hasil dari penawaran 1,24 miliar saham baru dan 3,72 miliar lembar lainnya merupakan divestasi Rajawali Corpora di level harga Rp750 per saham.
Emiten tambang yang mengelola tambang emas Toka Tindung itu mencatat volume produksi emas sebanyak 111.100 ons pada 2022 dan meningkat 11% menjadi 123.300 ons pada 2023. Peningkatan itu sejalan dengan kenaikan kandungan emas dari 1,07 gram per ton menjadi 1,2 g per ton. Sementara itu, volume penjualan emas ARCI tercatat sebanyak 117.300 ons pada 2022 dan 120.600 ons pada 2023.