Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

The Fed Urung Pangkas Suku Bunga, Begini Prospek Rupiah terhadap Dolar AS

Analis Pasar Uang melihat rupiah masih akan tertekan dengan penguatan dolar AS ke depannya setelah The Fed enggan memangkas suku bunga acuan.
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (23/8/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (23/8/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah kembali melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari ini, Rabu (17/4/2024) seiring dengan tekanan dolar AS ke depannya. Apalagi The Fed memberi sinyal urung memangkas suku bunga acuan

Pukul 12.45 WIB, rupiah turun 68,5 poin atau 0,42% menjadi Rp16.244 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS naik 0,13% ke level 106,391.

Mata uang Asia lainnya juga cenderung melemah seperti peso Filipina turun 0,55%, yuan China 0,04%, rupee India 0,42%, ringgit Malaysia 0,03%, baht Thailand 0,54%.

Analis Pasar Uang Lukman Leong melihat prospek rupiah ke depannya masih akan tertekan oleh dolar AS yang menguat. Menurut Lukman, penguatan dolar AS masih akan terjadi dalam jangka panjang. 

"Penguatan dolar AS masih akan panjang tercermin dari pernyataan Kepala The Fed Jerome Powell semalam jika mereka belum bisa menurunkan suku bunga karena inflasi yang masih tinggi," kata Lukman, Rabu (17/4/2024).

Dia melanjutkan pelemahan rupiah ini akan memiliki beberapa dampak ke ekonomi. Dampak tersebut, kata dia, seperti BI yang akan terus mempertahankan suku bunga tinggi saat inflasi yang masih di dalam target. 

"Malah ada kemungkinan BI akan perlu kembali menaikkan suku bunga kedepan untuk menahan depresiasi rupiah," ucap Lukman. 

Dia menjelaskan, suku bunga yang tinggi dan impor yang lebih mahal akan meredam permintaan dan menekan pertumbuhan ekonomi.

Sebagai informasi, sebelumnya Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan jika para pengambil kebijakan akan menunggu lebih lama dari perkiraan sebelumnya untuk memangkas suku bunga. Hal ini meyusul serangkaian data inflasi yang sangat tinggi. 

Powell juga mencatat jika para pejabat kemungkinan akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mendapatkan keyakinan yang diperlukan, bahwa inflasi AS mengarah ke sasaran The Fed sebesar 2% sebelum penurunan yang lebih rendah dalam biaya pinjaman.

Jika tekanan inflasi terus berlanjut, Powel menjelaskan The Fed dapat mempertahankan suku bunga tetap stabil “selama diperlukan.”

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), kelompok pejabat yang menetapkan suku bunga, selanjutnya akan bertemu pada 30 April-1 Mei.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper