Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gara-gara Rekor Harga US$2.200, Toko Emas di Dubai Sepi

Toko emas di Dubai harus merasakan dampak negatif dari pergerakan harga logam mulia yang mencetak rekor tertinggi.
Palm Jumierah di Dubai/bloomberg
Palm Jumierah di Dubai/bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Deretan toko emas di Dubai terdampak oleh pergerakan harga logam mulia yang menembus rekor harga tertinggi.

Dilansir dari Bloomberg Senin (11/3/2024), harga emas telah mencetak rekor tertinggi US$2.200 per ounce. Namun, banderol logam mulia yang makin mentereng justru berdampak negatif bagi para pedagang di Dubai Gold Souk.

Sebagai gambaran, Dubai Gold Souk merupakan sebuah pasar tradisional yang berlokasi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Lokasi itu memiliki ratusan toko yang mayoritas menjajakan perhiasan.

Bloomberg melaporkan rekor harga emas telah membuat Gold Souk berubah dari pasar tradisional menjadi tempat window-shopping. Pasalnya, transaksi pembelian dilaporkan sejumlah penjual melorot.

Kebanyakan penduduk lokal hanya melihat-lihat emas di Gold Souk. Pembelian mayoritas dilakukan oleh para pelancong yang ingin membayar lebih saat mereka melakukan liburan.

“Para pembeli menanyakan kenapa harga begitu tinggi sehingga akhirnya mereka memilih untuk membeli lebih sedikit,” ujar salah satu pedagang dilansir dari Bloomberg, Senin (11/3/2024).

Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Analis Komoditas Lukman Leong mengatakan harga emas pekan depan akan dipengaruhi pada data non-farm payrolls (NFP) AS, menyusul serangkaian data tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan seperti Jolt, ADP dan Jobless claim.

Data non-farm payrolls (NFP) pada Jumat (8/3/2024) menunjukkan pengusaha di AS menambahkan 275.000 pekerjaan pada Februari 2024, atau lebih rendah dari 353.000 pekerjaan pada bulan Januari 2024. Menurutnya, hal ini berpotensi kembali membawa harga emas ke rekor all time high baru. 

Kendati demikian, menurutnya perlu diperhatikan juga bahwa kenaikan parabolic harga emas belum disertai koreksi yang berarti, hal ini menandakan harga emas juga rentan aksi profit taking. 

"Range harga emas pekan depan di US$2.140 hingga US$2.200 per troy ounce," ujar Lukman kepada Bisnis dikutip Minggu (10/3/2024).

Lebih lanjut dia mengatakan, pada pekan depan data inflasi AS akan menjadi sentimen utama. Sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja AS pada Selasa (13/2/2024) melaporkan bahwa inflasi Januari 2024 meningkat sebesar 3,1% (year-on-year/yoy) setelah sebelumnya meningkat sebesar 3,4% pada Desember 2023. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper