Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp15.788 Usai The Fed Tahan Suku Bunga Acuan

rupiah dibuka melemah ke level Rp15.788 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (1/2/2024), usai The Fed umumkan menahan suku bunga acuan.
Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (30/8/2023). Bisnis/Suselo Jati
Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (30/8/2023). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA — Mata uang rupiah dibuka melemah ke level Rp15.788 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (1/2/2024). Pelemahan ini terjadi saat The Fed baru saja mengumumkan menahan suku bunga pada pertemuan 30-31 Januari 2024.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,03% atau 5 poin ke level Rp15.788. Sementara itu indeks dolar terpantau menguat 0,05% ke level 103,407.

Sejumlah mata uang kawasan Asia lainnya bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,10%, dolar Singapura naik 0,04%, won Korea naik 0,11%, rupee India menanjak 0,09%, ringgit Malaysia naik 0,06% dan bath Thailand naik 0,16%.

Hanya dolar Hong Kong, yuan China dan peso Filipina yang melemah bersama rupiah dengan turun masing-masing sebesar 0,01%, 0,17% dan 0,01%.

The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) hari ini, Kamis (31/1/2024) waktu Amerika Serikat. The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,25%-5,5%. Kebijakan mempertahankan suku bunga acuan ini diambil oleh anggota komite dengan suara bulat.

Sebelumnya, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp15.760 - Rp15.840 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Ibrahim menjelaskan data ekonomi AS yang solid telah membuat para pedagang mengurangi perkiraan pemangkasan suku bunga pada bulan Maret menjadi 42%, dari sekitar 89% pada bulan lalu, menurut FedWatch Tool milik CME Group.

Banyak analis memperkirakan penurunan suku bunga pertama The Fed akan bertujuan untuk mencegah kesenjangan yang terlalu lebar antara inflasi dan suku bunga The Fed, karena hal ini akan memperketat kondisi keuangan lebih dari yang direncanakan oleh The Fed. Imbal hasil Treasury turun dan dolar melemah setelah Powell pada bulan Desember mengindikasikan bahwa The Fed beralih ke siklus pelonggaran.

Data pada hari Selasa menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan AS secara tak terduga meningkat pada bulan Desember sementara kepercayaan konsumen AS meningkat ke level tertinggi dalam dua tahun pada bulan Januari. Selain itu, Investor sepenuhnya memperkirakan penurunan suku bunga yang dilakukan Bank Sentral Eropa pada bulan April.

Selain itu, dana Moneter Internasional (IMF) kembali mempertahankan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode 2023 dan 2024, yakni tetap di angka 5%.  Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI dari IMF diambil berdasarkan asumsi kebijakan fiskal dan moneter RI. Sebelumnya, IMF telah meramalkan ekonomi RI akan mampu tumbuh seperti yang pemerintah harapkan, meski proyeksi ekonomi global dari berbagai lembaga terus dipangkas.

Di samping itu, pada Januari 2024 pula IMF merevisi ke atas prospek ekonomi global 2024, dari 2,9% menjadi 3,1%.  Banyak negara yang terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa, dengan pertumbuhan yang semakin cepat di negara-negara besar di Asia Tenggara.

Sementara negara mitra dagang Indonesia lainnya, yakni China, masih diproyeksikan akan tumbuh melambat, di mana konsumsi dan investasi yang lebih lemah terus membebani aktivitas.  Sementara itu, di kawasan Uni Eropa, aktivitas diperkirakan akan sedikit pulih setelah tahun 2023 yang penuh tantangan, ketika harga energi yang tinggi dan kebijakan moneter yang ketat membatasi permintaan.

Adapun, proyeksi dari lembaga internasional ini sejalan dengan target pemerintah yang mematok target pada level yang tidak jauh berbeda.  Pemerintah dan para ekonom juga optimistis capaian produk doemstik bruto (PDB) Indonesia pada 2023 akan mampu di atas 5%. Begitu pula dengan target pemerintah pada 2024 yang mematok target 5,2%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper