Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Rebound, Pasar Abaikan Data Inflasi China

Harga minyak naik tipis pada perdagangan hari ini, Kamis (9/11/2023), karena pasar mengabaikan indikator deflasi dari China.
Anjungan minyak/Bloomberg
Anjungan minyak/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA —  Harga minyak naik tipis pada perdagangan hari ini, Kamis (9/11/2023), karena pasar mengabaikan indikator deflasi di China dan mencari petunjuk lebih lanjut mengenai status permintaan dari dua konsumen minyak terbesar dunia.

Mengutip Reuters, pada perdagangan hari ini pukul 08.45 WIB, harga minyak mentah Brent naik 0,8% ke level US$80,16 per barel. sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS juga naik 0,8% ke posisi US$75,94 per barel.

Kenaikan ini terjadi sehari setelah kedua benchmark tersebut turun lebih dari 2% ke level terendah sejak pertengahan Juli karena kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan di Timur Tengah mereda dan kekhawatiran terhadap permintaan AS dan Tiongkok meningkat.

Data inflasi Tiongkok yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan bahwa CPI Oktober turun 0,2% YoY, sedangkan data PPI turun 2,6% YoY. Hal ini sejalan dengan jajak pendapat Reuters yang memperkirakan CPI akan turun 0,1% dan PPI 2,7%.

Awal pekan ini, data bea cukai menunjukkan bahwa total ekspor barang dan jasa China mengalami kontraksi lebih cepat dari perkiraan, meskipun impor minyak mentah negara tersebut pada bulan Oktober cukup tinggi.

Sementara itu, sentimen positif untuk permintaan minyak datang dari gubernur bank sentral China, Pan Gongsheng, yang mengatakan negaranya diperkirakan akan mencapai target pertumbuhan tahunan sebesar 5% untuk tahun ini.

Bagi Amerika Serikat, data inventaris mungkin menunjukkan melemahnya permintaan. Persediaan minyak mentah AS meningkat 11,9 juta barel selama seminggu hingga 3 November, kata sumber yang mengutip angka dari American Petroleum Institute.

Jika terkonfirmasi, angka ini akan mewakili kenaikan mingguan terbesar sejak Februari. Namun Badan Informasi Energi (EIA) AS telah menunda rilis data persediaan minyak mingguan hingga 15 November untuk peningkatan sistem.

Barclays pada hari Rabu memangkas perkiraan harga minyak mentah Brent untuk tahun 2024 sebesar US$4 menjadi US$93 per barel, mengutip ketahanan pasokan minyak AS dan produksi yang lebih tinggi dari Venezuela menyusul pelonggaran sanksi terhadap produsen Amerika Latin tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ibad Durrohman
Editor : Ibad Durrohman
Sumber : Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper