Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emiten Boy Thohir MBMA Bukukan Rugi Bersih Rp294,83 Miliar Semester I/2023

Emiten nikel afiliasi Garibaldy ‘Boy’ Thohir PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) membukukan rugi bersih Rp294,83 miliar sepanjang semester I/2023.
Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) Devin Ridwan (kedua kanan), Presiden Direktur PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The (kanan), Direktur PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. David Agus (kedua kiri), dan Corporate Secretary MBMA Deny Greviartana Wijaya memberikan keterangan pers seusai paparan publik di Jakarta, Kamis (30/3). /Bisnis-Arief Hermawan.
Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) Devin Ridwan (kedua kanan), Presiden Direktur PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The (kanan), Direktur PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. David Agus (kedua kiri), dan Corporate Secretary MBMA Deny Greviartana Wijaya memberikan keterangan pers seusai paparan publik di Jakarta, Kamis (30/3). /Bisnis-Arief Hermawan.

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten nikel afiliasi Garibaldy ‘Boy’ Thohir PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) membukukan rugi bersih Rp294,83 miliar sepanjang semester I/2023 meski terdapat lonjakan pada pendapatan usaha.

Berdasarkan laporan keuangan, MBMA membukukan pendapatan usaha sebesar US$350,97 juta atau setara Rp5,62 triliun (kurs jisdor Rp15.000). Capaian tersebut melonjak 172,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama sebesar US$128,99 juta.

MBMA membukukan pendapatan usaha dari penjualan NPI ke pihak ketiga sebesar US$298,77 juta serta penjualan nikel matte ke pihak ketiga sebesar US$52,20 juta. Sebelumnya tidak terdapat penjualan nikel matte ke pihak ketiga di periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan pendapatan yang naik, beban pokok juga ikut melambung. Tercatat beban pokok pendapatan MBMA sebesar US$332,55 juta atau setara Rp4,98 triliun. Beban tersebut melambung 210,40 persen yoy dibandingkan semester I/2022 yang tercatat sebesar US$107,13 juta.

Beban tersebut naik karna segmen biaya manufaktur yang melonjak tajam dari US$91 juta menjadi US$368,13 juta. Kemudian beban pertambangan bertambah US$10 juta dan beban penysutan juga naik US$8 juta.

Kemudian terdapat kenaikan biaya keuangan dari sebelumnya US$3 juta menjadi US$18,35 juta. Sementara itu pendapatan lain-lain anjlok dari sebelumnya sebesar US$24,80 juta menjadi hanya US$1,27 juta.

Alhasil laba kotor menyusut 15,75 persen menjadi US$18,41 juta atau setara Rp276,28 miliar dari sebelumnya sebesar US$21,86 juta.

MBMA juga mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepemilik entitas induk sebesar US$19,65 juta atau setara Rp294,83 miliar. Padahal pada periode semester I/2023, MBMA masih mencetak laba bersih sebesar US$33,46 juta.

Adapun jumlah liabilitas naik menjadi US$944,03 juta dari periode Desember 2022 yang tercatat sebesar US$862,17 juta. Rinciannya, liabilitas jangka pendek sebesar US$325,47 juta dan liabilitas jangka panjang sebesar US$618,55 juta.

Kemudian, MBMA mencatatkan ekuitas sebesar US$2,10 miliar, naik dibandingkan dengan periode Desember 2022 yang tercatat sebesar US$1,55 miliar. Alhasil total aset MBMA tercatat sebesar US$3,05 miliar naik dari posisi US$2,42 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper