Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BEI Bidik IPO Saham 2023 Cetak Rekor Sepanjang Sejarah

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengharapkan pencatatan saham perdana atau IPO pada 2023 dapat memecahkan rekor sepanjang sejarah.
Karyawan melintas di depan layar yang menampikan logo Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (5/7/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di depan layar yang menampikan logo Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (5/7/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) mengharapkan pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2023 dapat memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah, seiring dengan pencatatan 62 emiten baru per 9 Agustus 2023.

Jumlah IPO saham pada 2023 tercatat telah melampaui 2022 ketika 59 perusahaan melantai di BEI. Teranyar, PT Mutuagung Lestari Tbk. (MUTU), PT Humpuss Maritim International Tbk. (HUMI), dan PT Lupromax Pelumas Indonesia Tbk. (LMAX) resmi mencatatkan sahamnya untuk pertama kali dan menjadi perusahaan ke-60, 61 dan 62 yang tercatat tahun ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengemukakan rekor IPO sejauh ini dipegang oleh tahun 1990 ketika 66 perusahaan menggelar IPO. Adapun antrean IPO atau pipeline pencatatan saham perdana per 4 Agustus 2023 menyisakan 38 perusahaan.

Dengan asumsi calon emiten dalam pipeline tidak berubah, maka antrean kini per hari ini berjumlah 29 perusahaan karena 9 perusahaan telah resmi listing pada 7—9 Agustus 2023.

“Mudah-mudahan IPO saham tahun ini mencetak rekor sepanjang sejarah pasar modal, mengingat pada 1990 pencatatan mencapai 66 emiten dan itu tertinggi dalam sejarah sebelum swastanisasi. Kalau tembus 67 berarti sudah rekor sepanjang sejarah,” kata Nyoman Yetna kepada wartawan, Rabu (9/8/2023).

Nyoman mengemukakan bahwa rencana IPO perusahaan dalam pipeline sejauh ini masih sesuai jadwal. Meski demikian, dia memberi catatan soal potensi penundaan seiring dengan kewajiban calon emiten untuk melaporkan kinerja keuangan terkini sesuai periode atau jadwal IPO-nya.

“Beberapa [yang menunda] itu bukan karena apa-apa, tetapi menyesuaikan dengan laporan keuangannya agar update untuk posisi terbaru lagi,” tambah Nyoman.

Adapun untuk target penerbitan 200 efek baru pada 2023, Nyoman mengatakan realisasi sejauh ini telah melampaui 90 persen. Penerbitan efek baru sendiri mencakup saham baru, obligasi, waran terstruktur, kontrak investasi kolektif (KIK), dana investasi infrastruktur (Dinfra), exchange traded fund (ETF) dan efek beragun aset (EBA).

“Semua instrumen capaiannya lebih dari 90 persen. Mudah-mudahan sampai akhir tahun tercapai terutama untuk ekuitas yang mencapai rekor terbaru lagi,” katanya.

Sampai 4 Agustus 2023, 53 perusahaan baru telah mencatatkan saham di BEI dengan dana dihimpun Rp47,9 triliun. Beberapa IPO dengan nilai jumbo yang telah tercatat tahun ini adalah PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) dengan nilai Rp9,99 triliun, kemudian PT Merdeka Battery Minerals Tbk. (MBMA) sebesar Rp9,18 triliun, dan PT Pertamina Geothermal Tbk. (PGEO) sebesar Rp9,05 triliun.

Pengelola jaringan bioskop Cinema XXI, PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk. (CNMA) menjadi perusahaan dengan nilai IPO jumbo terbaru yang melantai di bursa. CNMA berhasil menghimpun dana IPO sebesar Rp2,25 triliun dan resmi dicatat di BEI pada 2 Agustus 2023.

Nyoman Yetna sebelumnya juga melaporkan bahwa telah diterbitkan 65 emisi dari 47 penerbit efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) dengan dana yang dihimpun mencapai Rp74,1 triliun per 4 Agustus 2023.

Selain itu, masih terdapat 17 emisi dari 11 penerbit EBUS yang berada dalam pipeline penerbitan dengan sektor basic material menyumbang paling banyak yakni 4 perusahaan dan disusul industri 3 perusahaan.

Dari aksi rights issue, sejauh ini terdapat 26 perusahaan yang telah menerbitkan saham baru dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp36,1 triliun. Dari pipeline, terdapat 24 perusahaan yang berencana menggelar rights issue. Sektor consumer cyclicals dan finansial mendominasi antrean dengan masing-masing 8 perusahaan dalam pipeline dan disusul finansial 5 perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper