Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Longsor Jelang Pengumuman Suku Bunga The Fed, Saham GOTO dan Bank Jumbo Ambruk

IHSG ditutup melemah 0,74 persen ke posisi 6.812,72 pada perdagangan Rabu (3/5/2023) menjelang keputusan rapat The Fed terkait suku bunga.
Karyawati beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari pertama perdagangan saham tahun 2023 di Jakarta, Senin (2/1/2023). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari pertama perdagangan saham tahun 2023 di Jakarta, Senin (2/1/2023). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,74 persen ke posisi 6.812,72 pada perdagangan Rabu (3/5/2023). Pelemahan IHSG terjadi menjelang keputusan rapat The Fed pada Kamis dini hari besok terkait suku bunga acuan.

Berdasarkan data RTI, IHSG turun 50,58 poin dan sempat mencapai posisi tertinggi di 6.865,61 dan terendah di 6.776,89. Sebanyak 206 saham ditutup parkir di zona hijau, 337 saham melemah, dan 190 saham lainnya ditutup di posisi yang sama dengan harga kemarin.

Indeks sektoral terpantau ditutup bervariasi dengan penurunan terdalam terlihat pada sektor energi yang melemah 1,45 persen. Kemudian disusul sektor industri yang melemah 1,33 persen dan transportasi melemah 1,16 persen.

Adapun beberapa sektor yang menguat di antaranya adalah konsumer non-cyclical sebesar 1,17 persen. Kemudian sektor cyclical melemah 0,27 persen, dan properti menguat 0,46 persen.

Hampir seluruh saham-saham jajaran top 10 big caps ditutup melemah dan hanya UNVR yang ditutup di harga yang sama dengan penutupan sehari sebelumnya di Rp4.400. Penurunan terdalam dialami saham GOTO sebesar 2,91 persen, TPIA melemah 2,12 persen, dan BYAN turun 2,00 persen.

Selanjutnya BBCA dan BBRI turun masing-masing 1,38 persen dan 0,97 persen. Selanjutnya TLKM dan BBNI melemah masing-masing 0,95 persen dan 0,79 persen.

Pilarmas Investindo Sekuritas dalam riset tengah hari menyebutkan pergerakan IHSG dan bursa regional Asia terseret di zona merah di tengah  tekanan jual menjelang rilis suku bunga acuan The Fed Amerika Serikat.

"Hal ini tentunya membuat pelaku pasar atau investor cenderung wait and see menanti keputusan hasil FOMC The Fed,” tulis Pilarmas.

Sikap pelaku pasar atau investor juga sejalan dengan respons terhadap kondisi ekonomi AS dibayangi krisis perbankan setelah kejatuhan beberapa perusahaan yang menyebabkan sistem keuangan terganggu. Menteri Keuangan AS Janet Yellen juga mengingatkan tentang risiko gagal bayar utang. Alhasil, pasar masih diselimuti kekhawatiran bank sentral tetap menggunakan tool moneter yang agresif dalam melawan inflasi.

Sementara itu, keyakinan pasar terhadap kenaikan The Fed Rate sebesar 25 bps dalam FOMC 3–4 Mei 2023 mencapai 85 persen berdasarkan jajak pendapat oleh FedWatch tool. Pasar menantikan petunjuk dari The Fed mengenai arah kebijakan moneter setelah FOMC Mei tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper