Pertamina Geothermal Gelar Green Bond, Mampukah Kerek Harga Saham?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) akan menerbitkan surat utang berwawasan hijau atau green bonds senilai US$400 juta atau setara Rp5,94 triliun.
Pegawai mengamati layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (27/10/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai mengamati layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (27/10/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) akan menerbitkan surat utang berwawasan hijau atau green bonds senilai US$400 juta atau setara Rp5,94 triliun (kurs jisdor Rp14.855).

Berdasarkan keterbukaan informasi, PGEO telah menyelesaikan roadshow dan pembentukan harga atau pricing untuk penerbitan green bonds senilai US$400 juta tersebut. Utang tersebut memiliki bunga sebesar 5,15 persen dan akan jatuh tempo pada 2028.

Tim Ahli Menteri Investasi/Kepala BKPM Anggawira menilai aksi korporasi itu adalah solusi untuk kebutuhan investasi di sektor panas bumi. Pasalnya, belanja modal di sektor energi terbarukan itu menurut Angga cukup mahal.

Menurutnya langkah ini menjadi terobosan karena PGEO menjadi anak usaha pertama dari Pertamina  yang menerbitkan green bond secara global. Anggawira optimistis bahwa aksi penerbitan green bond tersebut bakal mendapat sambutan investor global.

"Saat ini tren pemenuhan energi di dunia telah mulai beranjak menuju penggunaan jenis-jenis sumber energi baru terbarukan (EBT) dan berkelanjutan. Jadi saya rasa ini terobosan yang sangat bagus," katanya dalam keterangan resmi dikutip Jumat, (228/4/2023).

Menurutnya aksi tersebut sejalan dengan tren di level global yang mengarah ke green financing. Di sisi lain, saham tengah mengalami tekananan karena menurun dari harga IPO Rp850 ke Rp750.

Anggawira menilai bahwa tekanan yang terjadi lantaran publik atau investor domestik masih belum begitu memahami kondisi dan peta industri energi nasional secara luas.

"Karena tekanan itu saya yakin terjadi lebih karena investor domestik belum terlalu paham besarnya potensi yang dimiliki PGEO ke depan. Secara fundamental perusahaan Saya melihat sama sekali tidak ada masalah. Masih sangat menjanjikan," tegas Anggawira.

Surat utang tersebut akan diterbitkan pada 27 April 2023. Penerbitan dilakukan dengan penandatanganan perjanjian Indenture antara PGEO dan The Bank of New York Mellon selaku trustee terkait penerbitan surat utang dan penunjukan trustee dengan yang diagendakan pada tanggal tersebut (Indenture).

Manajemen juga mengatakan utang tersebut telah mendapatkan peringkat Baa3 (Stable) dari Moody’s dan BBB- (Stable) dari Fitch.

PGEO akan menggunakan dana dari utang tersebut untuk melunasi seluruh sisa utang dengan Mandated Lead Arrangers, Kreditur Sindikasi Awal dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebagai Facility Agent yang akan jatuh tempo pada 23 Juni 2023 (Facilities Agreement).

“Rencana penggunaan dana tersebut telah sesuai dengan Eligibility Criteria yang telah ditetapkan dalam Green Financing Framework perseroan,” ujar manajemen.

Manajemen mengatakan penerbitan surat utang tersebut diharapkan dapat memberikan keleluasan lebih bagi PGEO dalam merencanakan dan menjalankan bisnis. Hal ini juga akan berdampak pada perkembangan kegiatan usaha dari PGEO.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper