Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Astra Agro (AALI) Siapkan Capex Rp1,4 Triliun pada 2023, Siap Ekspansi

PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp1,4 triliun untuk 2023.
PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp1,4 triliun untuk 2023.
PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp1,4 triliun untuk 2023.

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan sawit Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp1,4 triliun untuk 2023. Sebagian dana akan dipakai untuk peremajaan dan perawatan sawit.

“Capex untuk 2023 sekitar Rp1,4 triliun dan untuk perawatan maupun replanting di kisaran Rp500 miliar sampai Rp600 miliar,” kata Direktur Astra Agro Lestari Mario Casimirus Surung Gultom dalam paparan publik, Senin (3/4/2023).

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Astra Agro Lestari Santosa mengatakan target area perkebunan yang menjadi sasaran peremajaan atau replanting berkisar 5.000 hektare (ha) sampai 6.000 ha. Adapun total perkebunan belum menghasilkan AALI sejauh ini mencapai 21.879 ha.

“Kalau dilihat rata-rata usia tanaman Astra Agro masih di tingkat optimal. Namun mengingat secara profil sekitar sepertiga tanaman yang menghasilkan berusia di atas 20 tahun, kami selalu evaluasi dari waktu ke waktu, lebih untung mana untuk di-replanting atau dipertahankan karena biayanya tentu berbeda seiring dengan usia tanaman yang lebih tua,” kata Santosa.

Peremajaan perkebunan usia tua merupakan salah satu upaya AALI untuk menjaga keseimbangan produktivitas kebun secara kumulatif. Sebagaimana diketahui, AALI telah berkomitmen untuk berhenti ekspansi dengan pembukaan area perkebunan baru sejak 2015.

Selain dengan peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanam usia tua, ekspansi AALI juga mencakup akuisisi lahan milik perkebunan sawit lain. Namun, Santosa mengatakan bahwa pada 2023 AALI tidak berencana untuk melakukan akuisisi kebun baru.

“Sampai dengan sekarang kami tidak melihat prospek untuk melakukan akuisisi lahan baru. Memang tiga tahun terakhir ada beberapa yang menawarkan, tetapi terpaksa tidak bisa kami akuisisi karena syarat-syarat bagi AALI untuk mengambil lahan atau perusahaan kebun sawit harus memenuhi standar sustainability yang cukup ketat. Mereka harus sudah ISPO dan sedang tidak bermasalah,” katanya.

Sepanjang 2022, produksi minyak sawit mentah AALI mencapai 1,30 juta ton atau turun 11,5 persen dibandingkan dengan 1,47 juta ton pada 2021. Penurunan ini tidak lepas dari berkurangnya pembelian tandan buah segar (TBS) eksternal sebesar 20,8 persen menjadi 2,59 juta ton. Begitu pula produksi TBS kebun inti dan kebun plasma sebesar 1,2 persen menjadi 4,27 juta ton.

AALI tercatat mengakumulasi pendapatan sebesar Rp21,82 triliun, turun 10,25 persen dibandingkan dengan pendapatan pada 2021 sebesar Rp24,32 triliun.

Koreksi pendapatan AALI terutama disebabkan oleh turunnya segmen minyak sawit dan turunannya. AALI memperoleh pendapatan sebesar Rp19,26 triliun atau turun 10,88 persen secara year on year (YoY) dibandingkan dengan kinerja 2021 yang menyentuh Rp22,02 triliun. Selain itu, segmen inti sawit dan turunannya turun dari Rp2,20 triliun pada 2021 menjadi Rp2,18 triliun pada 2022.

Berdasarkan wilayah operasi, pendapatan dari Sumatra turun 1,10 persen menjadi Rp11,57 triliun. Kemudian pendapatan bersih dari Kalimantan turun 20,34 persen menjadi Rp7,67 triliun dan dari  Sulawesi turun 6,73 persen menjadi Rp11,55 triliun.

Turunnya pendapatan AALI diikuti dengan berkurang beban pokok pendapatan sebesar 7,62 persen YoY menjadi Rp18,0 triliun pada 2022, dibandingkan dengan Rp19,49 triliun sepanjang 2021.

Meski demikian, persentase penurunan beban yang lebih rendah daripada pendapatan bersih tetap mengerek turun laba kotor AALI sebesar 20,86 persen menjadi Rp3,82 triliun dari sebelumnya Rp4,83 triliun.

Selain beban penjualan yang naik menjadi Rp578,72 miliar, Astra Agro Lestari sejatinya membukukan penurunan di sejumlah pos beban. Misalnya beban umum dan administrasi yang turun 9,80 persen menjadi Rp882,97 dan biaya pendanaan yang hanya sebesar Rp366,44 miliar.

Kondisi tersebut lantas mengantarkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan bertengger di Rp1,72 triliun, turun 12,41 persen dibandingkan dengan 2021 sebesar Rp1,97 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper