Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Reksa Dana Saham Terimbas Pasar yang Labil, Begini Strategi Pinnacle

Pinnacle menerapkan strategi kuantitatif dalam proses investasi di reksa dana yang dikelola, mulai dari pembentukan portofolio, dan penentuan underlying asset.
President dan CEO PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra (tengah) memberikan penjelasan pada konferensi pers peluncuran Pinnacle FTSE  Indonesia ETF (XPFT), di Jakarta, Senin (10/9/2018)./JIBI-Dedi Gunawan
President dan CEO PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra (tengah) memberikan penjelasan pada konferensi pers peluncuran Pinnacle FTSE Indonesia ETF (XPFT), di Jakarta, Senin (10/9/2018)./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja reksa dana pada awal 2023 ikut terimbas sejumlah sentimen yang menyelimuti pasar. Berdasarkan laporan Infovesta Utama pada Senin (13/2/2023), kinerja reksa dana saham pada periode 6–10 Februari 2023 minus sebesar 0,46 persen.

Reksa dana campuran juga minus sebesar 0,30 persen dan reksa dana pendapatan tetap minus sebesar 0,03 persen. Sementara itu, reksa dana pasar uang meningkat 0,08 persen. Perkembangan itu sejalan dengan tren dana kelolaan pada Januari 2023 yang memperlihatkan kenaikan pada reksa dana berbasis surat utang.

Co Founder dan CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengemukakan volatilitas pada pasar saham pada awal 2023 turut tercermin pada kinerja dan dana kelolaan reksa dana berbasis saham. Meski demikian, dia mencatat bahwa pergerakan IHSG pada Januari 2023 cenderung datar.

“Dana kelolaan industri untuk reksa dana berbasis saham juga tidak terlalu bergerak secara signifikan,” kata Guntur, Selasa (14/2/2023).

Di tengah kondisi ini, Guntur mengatakan penurunan jangka pendek pada reksa dana saham tidak terlalu memengaruhi pengelolaan portofolio. Dia menjelaskan bahwa Pinnacle menerapkan strategi kuantitatif dalam proses investasi di reksa dana yang dikelola, mulai dari pembentukan portofolio, penentuan underlying asset dan juga pembobotan.

“Kinerja dalam periode pendek kami melihat hanya sebagai ‘noise’. Namun dengan strategi kuantitatif kami dapat mengkonstruksi portofolio yang optimal yang dapat beradaptasi sesuai dengan kondisi pasar,” jelasnya.

Proses investasi yang mengacu pada data dan strategi kuantitatif membuat Pinnacle melihat kondisi makro global sebagai faktor yang perlu diperhatikan. Guntur mengatakan pihaknya selalu melakukan monitor pada portofolio untuk memastikan manajemen risiko yang terukur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper