Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PPKM dicabut, Agung Podomoro (APLN) Tak Merasakan Dampak Signifikan

Agung Podomoro (APLN) tak merasakan dapak signifikan atas dicabutnya PPKM. Ini karena APLN tidak menggunakan metode revenue sharing dalam pengelolaan bisnisnya.
Kawasan Podomoro City, Jakarta. Kawasan ini terdiri dari beberapa properti, mulai dari Central Park hingga Neo Soho Mall./agungpodomoro
Kawasan Podomoro City, Jakarta. Kawasan ini terdiri dari beberapa properti, mulai dari Central Park hingga Neo Soho Mall./agungpodomoro

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten Properti PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) tidak merasakan dampak signifikan dengan dicabutnya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Hal ini lantaran APLN tidak menggunakan metode revenue sharing sehingga tidak merasakan dampak dari kenaikan pengunjung mal.

Investor Relations APLN Wibisono mengatakan rasio okupansi dari segmen untuk segmen mal memang meningkat dibanding masa pandemi Covid-19. Meski demikian, dampak dari pencabutan PPKM lebih terasa untuk segmen perhotelan ketimbang mal.

“APLN tidak pakai revenue sharing jadinya tidak ada dampak dari kenaikan traffic terhadap pendapatan,” ujar Wibisono kepada Bisnis, Rabu (4/1/2023).

Terkait dengan target tahun 2023, Wibisono mengatakan APLN masih belum bisa membeberkan target pendapatan maupun laba. Hal ini juga berlaku untuk target marketing sales.

Wibisono mengatakan masih terlalu dini untuk menentukan target marketing sales tahun 2023. Terlebih APLN belum menerima hasil marketing sales dari semua proyek.

APLN mencetak marketing sales Rp1,58 triliun pada kuartal III/2022. Angka ini naik 18,7 persen dari Rp1,33 triliun secara year-on-year (yoy).

Adapun Podomoro Park Bandung memiliki kontribusi paling besar untuk marketing sales dengan nilai Rp452,1 miliar. Selain itu, Podomoro City Deli Medan sebesar Rp284,4 miliar, Bukit Podomoro Jakarta sebesar Rp233,3 miliar, Pakubuwono Spring sebesar Rp160,3 miliar, Podomoro Golf View membukukan sebesar Rp111,8 miliar, Kota Podomoro Tenjo sebesar Rp90,8 miliar dan proyek-proyek lainnya sebesar Rp248,5 Miliar.

Sementara itu, rasio okupansi APLN terbesar masih pada proyek mal Central Park. Mal tersebut memiliki rasio okupansi 95 persen dari 128,35 meter persegi lahan tersedia untuk tenant. Rasio ini naik dari 93 persen secara year-on-year (YoY).

Kemudian rasio okupansi terbesar berikutnya untuk segmen mal APLN adalah Emporium Pluit dengan rasio 93 persen dari 63,66 meter persegi lahan tersedia. Rasio okupansi mal Emporium Pluit naik dari 89 persen secara YoY.

Kemudian Neo Soho tercatat mencapai rasio okupansi hingga 83 persen dari 43,62 meter persegi lahan tersedia pada kuartal III/2022. Rasio okupansi ini naik dari 81 persen secara YoY.

Sementara dari segmen perhotelan, rasio okupansi terbesar adalah hotel Pullman Vimala Hills dengan rasio 76 persen dari 229 kamar tersedia. Angka ini naik dari 68 persen secara YoY.

Hotel dengan rasio okupansi terbanyak berikutnya adalah Ibis Styles Grand Central dengan rasio 72 persen dari 240 kamar tersedia. Rasio ini meningkat drastis dari 44 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Berikutnya adalah Pullman Grand Central dengan rasio okupansi 67 persen dari 279 kamar tersedia. Angka ini juga melejit dari 47 persen secara YoY.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper