Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Wall Street Anjlok Ketika Data Ekonomi AS Menujukan Perbaikan

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 482,78 poin atau 1,40 persen, sementara Indeks S&P 500 merosot 72,86 poin atau 1,79 persen.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 Desember 2022  |  06:59 WIB
Wall Street Anjlok Ketika Data Ekonomi AS Menujukan Perbaikan
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg - Michael Nagle
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Wall Street terjungkal Pada akhir perdagangan Senin (05/12/2022), seiring data sektor jasa-jasa yang lebih baik dari perkiraan. membuat invesor mengevaluasi kembali apakah Federal Reserve (Fed) dapat menaikkan suku bunga lebih lama, sementara saham Tesla turun terimbas laporan pengurangan produksi di China.

Perusahaan milik Elon Musk ini merosot 6,4 persen di tengah rencana untuk memangkas produksi Model Y Desember di pabrik Shanghai lebih dari 20 persen dari bulan sebelumnya.

Penurunan saham Tesla ini membebani Nasdaq, di mana Tesla adalah salah satu pelemahan terbesar, menarik indeks teknologi ke penurunan kedua berturut-turut.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 482,78 poin atau 1,40 persen, menjadi menetap di 33.947,10 poin. Indeks S&P 500 merosot 72,86 poin atau 1,79 persen, menjadi berakhir di 3.998,84 poin. Indeks Komposit Nasdaq terpangkas 221,56 poin atau 1,93 persen, menjadi ditutup pada 11.239,94 dolar AS.

Secara umum indeks pasar saham Amerika Serikat (AS) tertekan karena data menunjukkan aktivitas industri jasa-jasa AS secara tak terduga meningkat pada November, menyusul data ketenagakerjaan pulih kembali, menawarkan lebih banyak bukti tentang momentum yang mendasari ekonomi.

Data tersebut muncul setelah survei pekan lalu yang menunjukkan pekerjaan dan pertumbuhan upah yang lebih kuat dari perkiraan pada November. Data yang positif menentang harapan The Fed mungkin memperlambat kecepatan dan intensitas kenaikan suku bunga di tengah tanda-tanda inflasi yang surut baru-baru ini.

"Hari ini adalah sedikit tanggapan untuk Jumat (2/12/2022), karena laporan pekerjaan itu, yang menunjukkan ekonomi tidak banyak melambat, bertentangan dengan pesan yang disampaikan (Gubernur Jerome) Powell pada Rabu sore (30/11/2022)," kata CEO dari Drury Capital, mengutip Antara, Selasa (06/12/2022).

Investor melihat peluang 89 persen bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin minggu depan menjadi 4,25 persen-4,50 persen, dengan suku bunga memuncak di 4,984 persen pada Mei 2023.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan menetapkan suku bunga akan bertemu pada 13-14 Desember, pertemuan terakhir di tahun yang bergejolak ini merupakan upaya bank sentral untuk menahan kenaikan inflasi multi-dekade dengan rekor kenaikan suku bunga.

Pengetatan kebijakan yang agresif juga telah memicu kekhawatiran penurunan ekonomi, dengan JPMorgan, Citigroup dan BlackRock di antara mereka yang meyakini kemungkinan resesi pada 2023.

Dalam data ekonomi lainnya minggu ini, investor juga akan memantau klaim pengangguran mingguan, harga produsen, dan survei sentimen konsumen Universitas Michigan untuk petunjuk lebih lanjut tentang kesehatan ekonomi AS.

pada Akhir perdagangan, sektor Energi adalah salah satu beban sektor S&P terbesar, turun 2,9 persen. terbebani oleh gas alam berjangka AS yang merosot lebih dari 10 persen pada Senin (5/12/2022), prospeknya meredup karena perkiraan cuaca yang lebih ringan dan penundaan dimulainya kembali pabrik ekspor gas alam cair (LNG) Freeport.

EQT Corp, salah satu produsen gas alam AS terbesar, mengalami penurunan paling tajam pada indeks energi, ditutup 7,2 persen lebih rendah.

Sektor keuangan juga terpukul keras, melorot 2,5 persen. Meskipun keuntungan bank biasanya didorong oleh kenaikan suku bunga, mereka juga sensitif terhadap kekhawatiran tentang kredit macet atau pertumbuhan kredit yang melambat di tengah penurunan ekonomi.

Sementara itu perusahaan fashion VF Corp jatuh 11,2 persen - penurunan satu hari terbesar sejak Maret 2020 - setelah mengumumkan pensiun mendadak CEO Steve Rendle. Perusahaan, yang memiliki nama-nama termasuk merek pakaian outdoor The North Face dan pembuat sepatu Vans, juga memangkas perkiraan penjualan dan laba setahun penuh, menyalahkan permintaan konsumen yang lebih lemah dari yang diantisipasi.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 10,78 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,04 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street federal reserve elon musk indeks dow jones industrial average indeks S&P 500 fomc
Editor : Ibad Durrohman
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top