Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Mirae Prediksi November 2022 Masih Cuan, DSNG, INTP & SMGR Jadi Top Picks

Mirae Asset Sekuritas memilih saham BBRI, BMRI, BNGA, BTPS, ITMG, DSNG, INTP, dan SMGR selama November 2022 di daftar top picks.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 07 November 2022  |  18:43 WIB
Mirae Prediksi November 2022 Masih Cuan, DSNG, INTP & SMGR Jadi Top Picks
Mira Asset Sekuritas Indonesia - Ilustrasi.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Mirae Asset Sekuritas Indonesia merilis riset bulanannya dan memperkirakan pertumbuhan laba bersih per saham para emiten berlanjut dengan rekomendasi baru memasukan saham DSNG, INTP, dan SMGR pada daftar saham pilihan November 2022.

Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya dan timnya dalam riset bulanan menyebut pasar modal Indonesia akan kembali melanjutkan tren pertumbuhan pada November 2022.

"Kami menambahkan perusahaan perkebunan CPO, yaitu DSNG, dan dua perusahaan semen, yaitu INTP dan SMGR, ke bulanan kami stock picks pengganti UNTR, ADRO dan PTBA," urainya dalam riset, Senin (7/11/2022).

Pilihan saham Mirae condong ke bank, penambang batu bara, CPO, dan produsen semen seperti BBRI, BMRI, BNGA, BTPS, ITMG, DSNG, INTP, dan SMGR.

Pada 4 November 2022, top picks Mirae yang memiliki bobot sama menghasilkan akumulasi return sebesar 79,5 persen dibandingkan dengan akumulasi return IHSG 10,2 persen sejak dimulainya laporan pilihan teratas bulanan pada Agustus 2019. Oleh karena itu, pilihan utama Mirae mengungguli IHSG sebesar 69,3 persen.

Menurutnya, penghasilan saham konstituen LQ45 akan cukup layak pada rilis laporan keuangan kuartal III/2022, hal ini membuat kemungkinan peningkatan laba per saham atua earning per share (EPS) berlanjut.

Laba bersih inti agregat kuartal III/2022 tidak termasuk keuntungan atau kerugian ASII dan TLKM dari penyesuaian nilai wajar investasi di GOTO sebagai investasi bukan kinerja operasional mereka tumbuh 19 persen YoY menjadi Rp52,4 triliun dibandingkan dengan pertumbuh 23 persen menjadi Rp50,5 triliun pada kuartal II/2022.

Secara triwulanan, laba bersih inti agregat meningkat sebesar 4 persen QoQ, sebagian besar dari sektor keuangan dan barang konsumsi.

"Dari 23 perusahaan yang mempublikasikan laba bersihnya, 11 perusahaan (47,8 persen) mencatatkan laba bersih yang berada di atas ekspektasi FY22F konsensus, 7 perusahaan (30,4 persen) sejalan, sedangkan sisanya (21,7 persen) berada di bawah harapan," terangnya dalam riset, dikutip Senin (7/11/2022).

Sektor yang membukukan laba bersih di atas ekspektasi konsensus adalah keuangan yaitu, BBCA, BMRI, BBNI, dan ARTO. Kemudian, industri dasar & kimia yaitu, INTP, dan SMGR.

Industri lain-lain yaitu ASII, BUKA, dan EMTK. Selanjutnya, perdagangan, jasa, dan investasi yaitu, UNTR, dan pertambangan yaitu PTBA.

"Di sektor keuangan, kami melihat pertumbuhan pendapatan yang paling menonjol sebesar 44 persen YoY dan 5 persen QoQ pada didukung oleh pertumbuhan pinjaman yang kuat serta peningkatan NIM yang kuat dan biaya kredit yang lebih rendah di kuartal III/2022. Naiknya suku bunga juga akan membantu perusahaan pembiayaan dalam meningkatkan pendapatan mereka di periode mendatang," terangnya.

Secara keseluruhan, menurutnya, peningkatan EPS kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang berkat pendapatan kuartal III/2022 yang layak. Per 31 Oktober 2022, sekitar 47,8 persen dari perusahaan LQ45 mencatat laba bersih 9 bulan 2022 yang berada di atas harapan konsensus.

Pasar saham Indonesia juga berpotensi menjadi salah satu penerima aliran uang dari China. Mirae memiliki keyakinan Indonesia menawarkan prospek yang menarik bagi investor mengingat indikator ekonomi makro yang tangguh dan kuat pertumbuhan pendapatan.

Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS hampir mencapai puncaknya. Rupiah melemah terhadap dolar AS sejak pertengahan September dan melampaui Rp15.600 per dolar AS menjelang akhir tahun Oktober, yang hampir mencapai puncaknya.

"Melemahnya rupiah seharusnya menguntungkan perusahaan, terutama di sektor komoditas, yang pendapatannya terkait dengan dolar AS karena itu harus meningkatkan pendapatan mereka. Menurut kami, perusahaan CPO dan batu bara harus diuntungkan dari hal ini," tambahnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mirae IHSG rekomendasi saham penggerak ihsg pasar modal indonesia
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top