Harga Emas Global Masih dalam Tren Bearish, Tunggu Hasil The Fed

Harga emas global diperkirakan masih tertekan kebijakan agresif The Fed dan inflasi AS.
Dampak suku bunga naik terhadap emas./Freepik
Dampak suku bunga naik terhadap emas./Freepik

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas global diperkirakan masih tertekan kebijakan agresif The Fed dan inflasi AS.

Analis Sinarmas Futures Ariston Tjendra yang menyebutkan kebijakan agresif The Fed membuat pelaku pasar mereposisi aset investasinya keluar dari aset beresiko dan juga aset emas masuk ke aset dolar AS.

“Jika The Fed memberi sinyal bahwa akan menahan kenaikan suku bunga, maka harga emas bisa rebound,” kata Ariston kepada Bisnis, Kamis (27/10/2022).

Lebih rinci, Ariston memproyeksi harga emas untuk spot resiko penurunan masih akan terjadi. Saat ini resiko penurunan masih terbuka ke arah support US$1580, dengan potensi resisten di kisaran US$1700 per troy ons.

“Untuk fisik, mungkin masih ada potensi turun ke Rp930 ribu dengan resisten di Rp970 ribu per gram,” imbuhnya.

Hal yang sama juga disampaikan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono yang menyebutkan emas global masih dihantui sentimen bearish meskipun saat ini sentimen global terlihat sedang konsolidasi, seperti bursa saham wall street dan dolar AS.

“Namun jangka pendek ini cenderung konsolidasi di sekitar low range dengan potensi rebound menjauhi US$1.600,” katanya menjawab pertanyaan Bisnis, Rabu (26/10/2022).

Meskipun global market rebound dan USD terkoreksi, lanjut Wahyu, votalitas pasar uang dan kekacauan pasar kredit masih terjadi. Konsolidasi ini cenderung masih terjadi di awal November. Meski demikian secara tradisional emas tidak akan kehilangan pamor meski mengalami bearish.

Central bank, investor institusional, retail, dan masyarakat umum masih mengaggap emas aset penting untuk jangka panjang.

“Jadi buy on weakness berlaku bagi emas saat ini,” lanjut Wahyu.

Wahyu mengungkapkan juga mengenai pola kenaikan harga emas setelah alami penurunan. Sejatinya fiat money akan tergerus inflasi dan emas menjadi pelindungnya.

“Sudah menjadi pola juga setelah Tappering dan/atau lanjut pengetatan moneter, biasanya terjadi krisis atau ancaman krisis yang memicu bank central terutama the fed untuk kembali menyelamatkan dengan stimulus (safe haven),” terangnya.

Wahyu menambahkan apapun yg terjadi emas tetap sebagai aset investasi bagian diversifikasi portofolio umum

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Artha Adventy
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper