Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Hantu Resesi Makin Kuat, Harga Minyak Dunia Kembali Turun

CEO JPMorgan Chase & Co Jamie Dimon mengatakan perekonomian global dan AS kemungkinan akan mengalami resesi pada tahun depan.
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat/Bloomberg-David Paul Morris
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat/Bloomberg-David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia terpantau fluktuatif di tengah kekhawatiran pasar terhadap resesi global dan perlambatan permintaan.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Selasa (11/10/2022), pada 11.00 WIB harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 0,4 persen ke posisi US$90,89 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent kontrak pada Desember melemah 0,2 persen ke level US$95,98 per barel.

CEO JPMorgan Chase & Co Jamie Dimon mengatakan perekonomian global dan AS kemungkinan akan mengalami resesi pada tahun depan. Sementara laporan dari IMF dan World Bank mengindikasikan adanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Prospek permintaan minyak juga dihambat oleh kebijakan Covid Zero dari China sebagai importir terbesar di dunia. Langkah ini berpotensi menurunkan permintaan energi dari negara tersebut.

Sebuah artikel dari koran Partai Komunis China menjelaskan, langkah pemerintah ini dinilai berkelanjutan dan merupakan bentuk upaya pengendalian ekonomi dan perlindungan terhadap masyarakat setempat.

Adapun, harga minyak sempat anjlok ke level terendahnya sejak Januari pada bulan lalu seiring dengan kekhawatiran terkait perlambatan ekonomi global. Harga minyak kemudian kembali rebound seiring dengan keputusan OPEC+ untuk memangkas produksi harian.

Investor tengah mengukur dampak dari kenaikan tingkat suku bunga seiring dengan langkah bank sentral global, termasuk The Fed, untuk melawan inflasi. Selain itu, pasar juga masih mencermati sentimen perang Ukraina-Rusia dan outlook pasokan minyak memasuki musim dingin.

Analis Migas RHB Investment Bank Bhd, Sean Lim menjelaskan OPEC+ memperlihatkan tekadnya untuk mendukung harga meski kebijakan pemangkasan output akan memberikan batas bawah harga

.“Risiko resesi masih akan menjadi sentimen utama yang dieprbincangkan. Kami juga memangkas proyeksi harga minyak Brent pada kuartal IV/2022 dari US$105 menjadi US$98 per barel,” jelas Lim dikutip dari Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper