Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Detik-detik Pengumuman Bunga Acuan BI, Imbal Hasil SUN Indonesia Melemah

Selama sepekan terakhir, yield SUN Indonesia telah melemah sebesar 14,4 basis poin.
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) Indonesia terpantau melemah jelang pengumuman Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI)

Data dari World Government Bonds pada Kamis (22/9/2022) mencatat, tingkat imbal hasil SUN Indonesia dengan tenor 10 tahun berada di level 7,314 persen. Posisi ini lebih tinggi dibandingkan dengan level pada 21 September kemarin pada 7,229 persen.

Selama sepekan terakhir, yield SUN Indonesia telah melemah sebesar 14,4 basis poin. Sementara itu, dalam periode 1 bulan belakangan, imbal hasil SUN terkoreksi 15,9 basis poin.

Adapun, level credit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia per hari ini ada di level 111,84. Posisi tersebut mengindikasikan probabilitas default atau gagal bayar sebesar 1,86 persen.

Sebelumnya, Ezra Nazula Ridha, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia menjelaskan salah satu sentimen pendukung pasar obligasi Indonesia ke depannya adalah tren kenaikan suku bunga global yang sudah mendekati puncak siklus pengetatan.

Ia memaparkan, kebijakan pengetatan moneter secara ‘front load’ selama dua bulan terakhir membuat suku bunga The Fed atau Fed Fund Rate mendekati level netral di 2,25 persen - 2,5 persen. Kondisi ini membuka peluang kenaikan suku bunga The Fed tidak akan seagresif sebelumnya.

“Kondisi ini akan berimbas pada turunnya volatilitas di pasar obligasi,” jelasnya.

Sementara itu, normalisasi suku bunga Bank Indonesia di tengah pengetatan global yang agresif dapat mendukung pasar obligasi dan nilai tukar Rupiah. Sentimen ini juga akan semakin positif ketika tingkat inflasi, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, sudah mencapai puncak.

Seiring dengan hal tersebut, Ezra mengatakan akhir dari siklus kenaikan suku bunga The Fed sudah mulai terlihat. Ia memprediksi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) Indonesia di akhir tahun ini dapat kembali menyentuh level 6,5 persen.

“Dalam jangka menengah, kami memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun bisa kembali ke kisaran 6,5 persen – 7 persen,” jelas Ezra.

Bank Indonesia (BI) diprediksi kembali menaikkan suku bunga acuan yang akan diumumkan dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari, Kamis (21/9/2022) setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga 75 basis poin.

Beberapa ekonom yang dihubungi Bisnis memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan atau BI-7 Days Repo Rate (BI7DRR) 25 basis poin atau menjadi 4 persen.

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menyatakan BI akan menaikkan suku bunga secara perlahan. Pasalnya, kenaikan suku bunga yang terlalu agresif dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Kami sejauh ini melihat BI akan kembali menaikkan suku bunga dengan besaran 25 basis poin ke 4,0 persen,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper