Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Timah (TINS) Turun, Laba Bersih Malah Melesat 301 Persen

Lonjakan laba bersih TINS pada semester I/2022 ditopang performa harga jual logam timah dengan rata-rata US$41.110 per metrik ton.
Dewi Fadhilah Soemanagara
Dewi Fadhilah Soemanagara - Bisnis.com 01 September 2022  |  19:47 WIB
Produksi Timah (TINS) Turun, Laba Bersih Malah Melesat 301 Persen
Suasana fasilitas pengolahan timah milik PT Timah Tbk. (TINS) di Mentok, Bangka, Indonesia, Selasa (19/11/2013). - Bloomberg/Dimas Ardian
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten BUMN PT Timah Tbk. (TINS) mencatatkan laba bersih senilai Rp1,08 triliun pada semester I/2022, melejit 301 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2021 yang senilai Rp270 miliar.

Direktur Keuangan dan  Manajemen Risiko Timah Fina Eliani menjelaskan, kontribusi anak usaha segmen non-timah di tahun ini diperkirakan meningkat 28 persen terhadap laba bersih konsolidasian perseroan.

"Untuk menjaga pertumbuhan  kinerja, TINS memacu kinerja  anak usaha,” ujar Fina dalam keterangan resmi, Kamis (1/9/2022).

Dari sisi kinerja keuangan, TINS membukukan pendapatan Rp7,48 triliun, naik 27 persen pada paruh pertama tahun ini dari semester kedua tahun lalu senilai Rp5,87 triliun.

Lebih lanjut, lonjakan laba bersih TINS pada semester pertama 2022 ditopang performa harga jual logam timah dengan rata-rata US$41.110 per metrik ton.

Membaiknya profitabilitas TINS juga tercermin dari EBITDA yang naik 82 persen menjadi Rp1,9 triliun, dari Rp1 triliun pada semester I/2021.

Padahal, dari sisi kinerja operasi, TINS mencatatkan penurunan produksi. Produksi bijih timah TINS pada enam bulan pertama tahun ini turun 14 persen menjadi 9.901 ton, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 11.457 ton.

Apabila dirinci, 39 persen atau sebanyak 3.829 ton dari produksi bijih timah tersebut berasal dari penambangan darat, sedangkan sisanya 61 persen atau 6.072 ton dari penambangan laut.

Produksi logam timah di paruh pertama tahun ini juga turun 26 persen menjadi 8.805 ton, dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 11.915 Mton.

Otomatis, penjualan logam timah turun 21 persen menjadi 9.942 Mton dibandingkan enam bulan pertama 2021 sejumlah 12.523 Mton.

Adapun posisi nilai aset TINS pada kuartal II/2022 senilai Rp14,4 triliun, turun 2 persen dibandingkan akhir 2021 senilai Rp14,7 triliun. Sementara itu, posisi liabilitas senilai Rp7,3 triliun, turun 13 persen dibandingkan posisi akhir tahun lalu senilai Rp8,4 triliun.

Sedangkan posisi ekuitas naik 12 persen menjadi Rp7,1 triliun dibandingkan posisi akhir 2021 Rp6,3 triliun.

Pada penutupan perdagangan BEI Kamis, (1/9/2022) saham TINS terpantau turun 0,33 persen ke posisi Rp1.490 per saham. Secara year-to-date (ytd), saham berkapitalisasi pasar Rp11,10 triliun tersebut naik 1,36 persen. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

timah harga timah BUMN Kinerja Emiten
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top