Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Bitcoin Makin Sulit Tembus US$30.000

Harga bitcoin diprediksi sulit menembus level US$30.000 karena minimnya investor institusi atau korporasi.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 09 Agustus 2022  |  10:39 WIB
Harga Bitcoin Makin Sulit Tembus US$30.000
Ilustrasi Bitcoin. Harga bitcoin diprediksi sulit menembus level US30.000 karena minimnya investor institusi atau korporasi. Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga Bitcoin diperkirakan sulit menembus level US$30.000 pada tahun ini seiring dengan minimnya aliran dana ke kelas aset ini, terutama dari investor institusional.

DIkutip dari Bloomberg pada Selasa (9/8/2022), Pendiri sekaligus CEO Galaxy Digital Holdings Ltd, Michael Novogratz harga Bitcoin diperkirakan masih akan bergerak pada rentang US$20.000 hingga US$22.000. Novogratz meragukan harga Bitcoin dapat melampaui kisarannya saat ini mengingat minimnya aliran dana ke aset ini.

“Apakah Bitcoin dapat menembus US$30.000 di tengah tren kenaikan ini? Kita lihat saja nanti, saya sendiri ragu. Saya akan cukup senang apabila Bitcoin mampu bertahan di US$20.000, US$22.000 atau US$30.000 selama beberapa waktu,” katanya.

Menurutnya, minimnya inflow ke Bitcoin terutama berasal dari investor institusional. Di sisi lain, Novogratz juga tidak melihat investor yang benar – benar menghindari Bitcoin.

Novogratz melanjutkan, harga Ethereum dapat menembus US$2.200 atau lebih tinggi lagi seiring dengan momentum pemutakhiran perangkat lunak yang disebut Merge.

Ia menambahkan, dengan adanya pengetatan moneter dari The Fed, demam aset kripto seperti pada tahun 2021 atau 2017 tidak akan terjadi pada tahun ini.

Mengutip data CoinMarketCap, Selasa (9/8/2022) harga Bitcoin (BTC) terpantau naik 0,49 persen ke level US$23.862,29. Sementara itu, harga Ethereum (ETH) reli 0,42 persen menjadi US$1.775,51. Kenaikan ini membuat sejumlah analis meyakini Bitcoin dapat menyentuh kisaran US$25.000.

Sebelumnya, Trader Tokocrypto Nathan Alexander memaparkan secara keseluruhan pasar kripto masih dalam fase sideways atau datar. Pergerakan aset kripto yang tak beraturan menandakan tengah berada di fase sideways.

Pangkal kegalauan pasar kripto kali ini didorong situasi makroekonomi dan kabar negatif terkait peretasan yang banyak muncul akhir-akhir ini, seperti di jaringan Solana dan Nomad. Data ketenagakerjaan AS juga masih berpotensi menekan laju market kripto.

“Data menunjukan beban gaji perusahaan di AS semakin meningkat dan bisa membuat inflasi terus meningkat. Jika ini terjadi, The Fed bisa saja kembali meneruskan pengetatan kebijakan moneternya dengan agresif. Namun, di saat bersamaan, investor juga merasa data tersebut bisa menjadi indikasi bahwa ekonomi AS bisa terhindar dari resesi ekonomi di kuartal ini,” jelas Nathan.

Dari segi analisis teknikal, investor telah melakukan price actions setelah nilai BTC sukses bertahan di atas level psikologis US$23.000. BTC akhirnya berhasil rebound menandakan bahwa pergerakannya terbilang positif untuk sementara.

Namun, penguatan harga tersebut ternyata tidak diiringi dengan aksi akumulasi yang masif dan volume perdagangan yang tinggi.

Nathan menuturkan, level resistance BTC sekarang berada di US$24.700. Jika BTC berhasil menembus level tersebut dengan volume meyakinkan, maka potensi melanjutkan penguatan sampai ke level US$25.960.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bitcoin aset kripto the fed mata uang kripto
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top