Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Imbal Hasil SUN Indonesia Turun Usai Rilis The Fed, Ini Sebabnya

Selama sepekan terakhir, yield SUN Indonesia menguat sebesar 29,4 basis poin.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 31 Juli 2022  |  14:43 WIB
Imbal Hasil SUN Indonesia Turun Usai Rilis The Fed, Ini Sebabnya
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) Indonesia cenderung menurun usai pengumuman kenaikan suku bunga The Fed. Meski demikian, pelemahan imbal hasil akan tetap terjadi sepanjang sisa tahun 2022 seiring dengan rencana Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga.

Data dari World Government Bonds pada Minggu (31/7/2022) mencatat, tingkat imbal hasil SUN Indonesia dengan tenor 10 tahun berada di level 7,197 persen. Posisi ini lebih tinggi dibandingkan dengan level pada 28 Juli kemarin pada 7,310 persen.

Selama sepekan terakhir, yield SUN Indonesia menguat sebesar 29,4 basis poin. Sementara itu, dalam periode 1 bulan belakangan, imbal hasil SUN telah menguat 5,2 basis poin.

Adapun, level credit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia per hari ini ada di level 115,04. Posisi tersebut mengindikasikan probabilitas default atau gagal bayar sebesar 1,92 persen.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, pergerakan imbal hasil SUN yang cenderung stabil pasca kenaikan suku bunga The Fed salah satunya ditopang oleh likuiditas global yang masih melimpah.

Ia memaparkan, setelah kenaikan suku bunga The Fed, umumnya investor akan lebih memilih masuk ke pasar obligasi AS dibandingkan emerging market seperti Indonesia. Hal ini mengingat imbal hasil atraktif serta risiko yang lebih rendah.

Namun, saat ini pasar AS tengah dibayangi oleh risiko resesi akibat laju inflasi yang cukup tinggi. Hal tersebut membuat investor lebih memilih bertahan di emerging market dengan melakukan rebalancing portofolio.

“Sentimen ini juga menjadi penopang nilai tukar rupiah pelemahannya cenderung tidak drastis,” katanya saat dihubungi Bisnis pekan ini.

Selain itu, kondisi pasar obligasi Indonesia juga ditopang oleh ketahanan investor domestik. Menurut Hans, investor institusi domestik seperti dana pensiun, perbankan dan asuransi melakukan aksi beli saat terjadi pelemahan harga agar mendapatkan return yang maksimal saat yield kembali menurun.

Hans memprediksi yield SUN Indonesia berpotensi melemah hingga ke kisaran 8 persen. Hal ini seiring dengan rencana Bank Indonesia yang akan menaikkan suku bunga acuannya pada akhir tahun.

Hans memperkirakan, imbal hasil SUN Indonesia seri 10 tahun akan bergerak di kisran 7,5 persen hingga 8 persen di sisa tahun ini.

“Dengan imbal hasil yang lebih tinggi, potensi masuknya investor institusi domestik semakin besar karena harga obligasi menurun,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kebijakan The Fed the fed surat utang negara obligasi negara
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top