Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Tembaga Merosot ke Bawah US$7.000, Terendah dalam 20 Bulan

Tembaga yang diperdagangkan di London Metal Exchange turun lebih dari 25 persen tahun ini dan berada pada laju penurunan tahunan terbesar sejak 2008, atau puncak krisis keuangan.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 15 Juli 2022  |  15:27 WIB
Harga Tembaga Merosot ke Bawah US$7.000, Terendah dalam 20 Bulan
Tembaga. - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Tembaga, komoditas kesayangan pemulihan ekonomi dari pandemi, jatuh ke level terendah dalam 20 bulan karena kekhawatiran resesi di seluruh dunia meningkat sehingga meredam prospek permintaan logam yang digunakan dalam segala hal, mulai dari mobil hingga iPhone.

Mengutip Bloomberg, Jumat (15/7/2022), harga logam merah turun di bawah US$7.000 per ton untuk pertama kalinya sejak November 2020, membatasi penurunan 35 persen dari tertinggi sepanjang masa yang disentuh hanya empat bulan lalu ketika investor khawatir invasi Rusia ke Ukraina akan semakin memperumit kemampuan konsumen mendapatkan tembaga.

Penurunan tajam terjadi di tengah kekhawatiran berkelanjutan bahwa China, yang menyumbang setengah dari konsumsi dunia, tidak akan pulih dengan cepat dari lockdown Covid dan karena lonjakan biaya energi membebani ekonomi Eropa dan inflasi AS yang mengalir mengancam resesi di ekonomi terbesar dunia.

"Sayangnya, saat ini untuk menemukan harga bottom tembaga terbukti menjadi tugas yang sulit. China, suku bunga, ketakutan resesi, dan masalah rantai pasokan masih ada. Dominonya jatuh,” kata Phil Streible, Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures LLC.

Tembaga yang diperdagangkan di London Metal Exchange turun lebih dari 25 persen tahun ini dan berada pada laju penurunan tahunan terbesar sejak 2008, atau puncak krisis keuangan.

Goldman Sachs minggu ini memperkirakan logam akan diperdagangkan pada US$6,700 per ton dalam tiga bulan ke depan, penurunan 22 persen dari prospek sebelumnya. Goldman Sachs mengatakan dolar AS yang melonjak akan tetap menjadi hambatan bagi tembaga sampai risiko makroekonomi mereda.

Penurunan tersebut merupakan bagian dari aksi jual yang lebih luas pada logam industri. Indeks enam logam yang diperdagangkan di LME, termasuk aluminium, tembaga, seng, nikel, timah dan timbal, turun 23 persen tahun ini. Harga baja patokan di AS telah turun lebih dari 36 persen, sementara bijih besi telah turun 19 persen.

Perusahaan pertambangan juga tidak kebal dari kejatuhan, dengan saham produsen tembaga Freeport-McMoRan turun sekitar 40 persen tahun ini. Goldman Sachs memperingatkan bahwa kenaikan biaya juga membuat sekitar 300.000 ton kapasitas tambang tembaga global tidak menguntungkan. Kapasitas yang sebelumnya menguntungkan pada US$6.270 per ton pada setahun lalu, sekarang tidak lagi menguntungkan pada level US$7.500 per ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas tembaga harga tembaga tembaga Resesi resesi ekonomi

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top