Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inflasi AS Melonjak Dorong Dolar AS, Harga Emas dan Minyak Bervariasi

Lonjakan data inflasi AS mendorong dolar AS dan menekan harga komoditas seperti minyak dan emas.
Pegawai menunjukan produk EmasKita terbaru di sela-sela peluncurannya di Jakarta, Selasa (12/7/2022). Lonjakan data inflasi AS mendorong dolar AS dan menekan harga komoditas seperti minyak dan emas. Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai menunjukan produk EmasKita terbaru di sela-sela peluncurannya di Jakarta, Selasa (12/7/2022). Lonjakan data inflasi AS mendorong dolar AS dan menekan harga komoditas seperti minyak dan emas. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Harga komoditas seperti minyak dan emas bervariasi setelah rilis data inflasi AS yang melonjak di atas perkiraan pada Rabu (13/7/2022).

Pukul 20.55 WIB, harga emas spot naik 0,14 persen atau 2,35 poin menjadi US$1.728,35 per troy ounce. Harga emas Comex kontrak Agustus 2022 turun 0,03 persen atau 0,5 poin menuju US$1.724,3 per troy ounce.

Di pasar minyak, harga minyak WTI kontrak Agustus 2022 naik 0,25 persen atau 0,24 persen menjadi US$96,08 per barel, sedangkan harga minyak Brent kontrak September 2022 turun 0,13 persen atau 0,13 poin menuju US$99,36 per barel.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang utama melonjak 0,23 persen menjadi 108,326. Lonjakan dolar AS biasanya berdampak negatif bagi pasar komoditas karena pembeli dengan mata uang lain perlu memabayar dengan dolar AS yang lebih mahal.

Tim Riset Monex Investindo Futures (MIFX) menyebutkan bahwa saat ini investor khawatir bahwa kenaikan suku bunga agresif untuk menjinakkan inflasi akan memacu penurunan ekonomi yang akan memukul permintaan minyak.

“Kekhawatiran resesi yang berkepanjangan terus memukul pasar, sementara penguatan dolar AS dan gejolak dalam kasus Covid di beberapa bagian China menjadi berita negatif bagi harga minyak,” tulis Tim MIFX dalam riset harian, Rabu (13/7/2022).

Di sisi lain, pembaruan pembatasan perjalanan Covid-19 di China juga membebani pasar karena beberapa kota dengan ekonomi terbesar kedua di dunia telah mengadopsi pembatasan baru untuk mengendalikan infeksi baru dari subvarian virus yang sangat menular.

Rilis data inflasi AS yang melonjak di atas perkiraan juga berdampak negatif terhadap harga emas sebagai aset yang dianggap aman. Investor akan beralih ke aset aman lainnya seperti dolar AS.

Pada bulan Juni, inflasi AS naik 9,1 persen, level terbesar sejak November 1981 dan jauh di atas perkiraan 8,8 persen dari konsensus analis, mengutip Yahoo Finance.

"Untuk pasar yang telah menghadapi ketakutan resesi, saya pikir minggu ini akan membawa ketakutan baru tentang peningkatan inflasi," Kepala Ekonom Deutsche Bank AS Matthew Luzzetti mengatakan awal pekan ini.

Inflasi AS pada periode Juni diharapkan untuk menginformasikan langkah kebijakan Federal Reserve berikutnya karena mereka memperketat kebijakan moneter dalam upaya untuk memulihkan stabilitas harga.

Bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin lagi pada pertemuan penetapan kebijakan berikutnya pada pertemuan 26-27 Juli 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper