Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nilai Perdagangan Karbon Indonesia Bisa Mencapai US$565,9 Miliar, Ini Katalisnya

Nilai perdagangan karbon Indonesia cukup tinggi seiring luas area hutan yang dapat menyerap karbon dalam jumlah besar.
Dewi Fadhilah Soemanagara
Dewi Fadhilah Soemanagara - Bisnis.com 06 Juli 2022  |  13:04 WIB
Nilai Perdagangan Karbon Indonesia Bisa Mencapai US$565,9 Miliar, Ini Katalisnya
Petugas mengecek instalasi di PLTP Kamojang, Garut, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021). Pertamina menargetkan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada tahun 2030 diantaranya melalui pemanfaatan energi rendah karbon dan efisiensi energi sebagai komitmen perseroan terhadap implementasi Environmental, Social and Governance (ESG). ANTARA FOTO - Indrianto Eko Suwarso
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai perdagangan karbon domestik bisa mencapai US$565,9 miliar seiring luas area hutan yang dapat menyerap karbon dalam jumlah besar.

Head of Carbon Market ICDX Zulfal Faradis mengatakan, data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyebutkan bahwa Indonesia memiliki hutan hujan tropis ketiga terbesar di dunia dengan luas area 125,9 juta hektare yang dapat menyerap emisi karbon sebesar sekitar 25,18 miliar ton.

Lebih lanjut, Indonesia juga memiliki area hutan mangrove dan lahan gambut yang cukup luas, sehingga dapat meningkatkan nilai perdagangan karbon.

“Dari data tersebut, maka total emisi karbon yang mampu diserap Indonesia kurang lebih sebesar 113,18 miliar karbon. Jika pemerintah Indonesia dapat menjual kredit karbon dengan harga US$5 di pasar karbon, maka potensi pendapatan Indonesia mencapai US$565,9 miliar,” papar Zulfal kepada Bisnis, Rabu (6/7/2022).

Sebagai informasi, luas area hutan mangrove di Indonesia saat ini mencapai 3,31 juta hektare dan mampu menyerap hingga 33 miliar karbon untuk seluruh hutan mangrove di Indonesia.

Selain itu, lanjut Zulfal, Indonesia juga memiliki lahan gambut terluas di dunia yakni seluas 7,5 juta hektare yang mampu menyerap emisi karbon mencapai sekitar 55 miliar ton.

Perdagangan karbon sebagai salah satu solusi pemanasan global telah disepakati secara sukarela oleh berbagai negara dalam Perjanjian Paris pada 2015.

Perdagangan karbon dinilai memiliki sejumlah manfaat, antaralain mengatasi permasalahan iklim, menghasilkan pendapatan fiskal, ketahanan energi, hingga memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan karbon hutan emisi karbon gambut
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top