Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tekanan Mulai Mereda, Bagaimana Prospek Reksa Dana Pendapatan Tetap?

Kondisi pasar obligasi Indonesia diprediksi masih akan fluktuatif sepanjang tahun 2022 meski tekanan yang dihadapi cenderung mulai berkurang. Bagaimana prospek reksa dana pendapatan tetap?
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Senin (14/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Senin (14/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi pasar obligasi Indonesia diprediksi masih akan fluktuatif sepanjang tahun 2022 meski tekanan yang dihadapi cenderung mulai berkurang. Bagaimana prospek reksa dana pendapatan tetap?

Laporan Infovesta Utama pada Senin (27/6/2022) menyebutkan, kondisi pasar obligasi masih akan bergerak fluktuatif hingga akhir tahun. Hal ini sejalan dengan pengetatan moneter yang dilakukan oleh The Fed.

Kenaikan suku bunga The Fed akan memicu naiknya imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury yang akan berimbas pada menyempitnya spread dengan SBN. Berkurangnya spread antara US Treasury dan SBN akan memicu penurunan minat investor.

“Namun dengan berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah saat ini, tekanan di pasar obligasi sudah mulai berkurang,” demikian kutipan laporan tersebut.

Sentimen volatilitas ini juga akan dirasakan pada reksa dana pendapatan tetap. Oleh karena itu, Infovesta menyarankan investor agar tetap waspada terhadap isu kebijakan kenaikan suku bunga The Fed bulan depan yang mempengaruhi pergerakan pasar obligasi.

Sebelumnya, Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas Handy Yunianto dalam risetnya menyebutkan, tengah ketidakpastian perekonomian dunia, pasar obligasi Indonesia juga mengalami kenaikan yield akibat keluarnya aliran dana asing.

Namun, dukungan investor domestik untuk obligasi pemerintah yang tinggi membuat pasar obligasi Indonesia cukup resilien. Hal ini terlihat dari kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia yang relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara emerging market lainnya.

Ia menjelaskan, dukungan investor domestik kepada obligasi pemerintah akan terus solid karena faktor likuiditas rupiah yang masih melimpah. Secara umum, terjadi pertumbuhan pada kredit perbankan sebesar 9 persen, namun Dana Pihak Ketiga (DPK) berupa tabungan, giro, dan deposito juga mengalami kenaikan yang lebih tinggi yakni sekitar 10 persen.

Hal ini menyebabkan tren loan-to-deposit ratio perbankan terus menurun, yang berarti sistem perbankan Indonesia memiliki likuiditas yang memadai,” jelas Handy.

Seiring dengan hal tersebut, suku bunga deposito terus mengalami penurunan, sehingga selisih antara bunga deposito dan yield SUN semakin melebar. Kondisi ini membuat dukungan investor domestik terhadap obligasi pemerintah Indonesia akan terus berlanjut.

Sementara itu, tren likuiditas pada perbankan akan terus memadai, mengingat Bank Indonesia masih akan melakukan burden sharing SKB3, dengan memberikan membeli obligasi pemerintah di pasar perdana sejumlah Rp220 triliun. Selain itu, pemerintah masih menjalankan ekspansi fiskal dimana defisit APBD masih di atas 4 persen dari PDB serta terjadi surplus pada neraca perdagangan Indonesia, akan turut menjaga likuiditas ke depannya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper