Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bitcoin Merosot di Bawah US$21.000, Binance Setop Penarikan selama 3 Jam

Pada Selasa (14/6/2022), harga Bitcoin anjlok hingga 10,3 persen ke posisi US$20.824, atau level terendahnya sejak Desember 2020.
Ilustrasi aset kripto Bitcoin, Ether, dan Altcoin/Istimewa
Ilustrasi aset kripto Bitcoin, Ether, dan Altcoin/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Harga bitcoin sempat turun di bawah US$21.000 pada perdagangan hari ini, Selasa (14/6/2022), di Asia sebelum akhirnya bangkit perlahan dan melanjutkan penurunannya karena investor menjual aset berisiko.

Cryptocurrency terbesar di dunia turun hampir 14 persen dalam 24 jam terakhir, sementara ethereum jatuh lebih dari 12 persen selama periode yang sama, menurut data Coinbase.

Dikutip dari CNBC International, Bitcoin melayang di sekitar US$21.800 siang ini di pasar Asia. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (14/6/2022), harga Bitcoin anjlok hingga 10,3 persen ke posisi US$20.824, atau level terendahnya sejak Desember 2020.

“Semuanya terbakar sekarang, baik itu ekuitas, baik itu aset kripto atau apa pun,” kata Nirmal Ranga, Kepala Perdagangan dan Analisis Teknis di pertukaran crypto ZebPay.

Sementara itu, Binance - pertukaran kripto terbesar di dunia - terpaksa menghentikan penarikan bitcoin selama lebih dari tiga jam karena transaksi macet yang menyebabkan jaminan simpanan.

Edward Moya, Senior Market Analyst for the Americas di Oanda mengatakan, sentimen untuk kripto saat ini sangat buruk menyusul turunnya kapitalisasi pasar kripto global di bawah US$1 triliun. Menurutnya, koreksi di bawah harga US$20.000 dapat berimbas pada kondisi pasar yang lebih buruk lagi.

Kapitalisasi pasar untuk cryptocurrency tergelincir di bawah US$1 triliun pada hari Senin untuk pertama kalinya sejak Februari 2021, data dari CoinMarketCap menunjukkan. Sekitar US$200 miliar telah menguap dari pasar dalam beberapa hari terakhir.

Aksi jual kripto terjadi karena investor secara luas menghindari aset berisiko dengan latar belakang kekhawatiran atas potensi resesi global karena bank sentral utama di seluruh dunia menaikkan suku bunga untuk menjinakkan inflasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nindya Aldila
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper