Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Merosot Tajam! S&P 500 Bearish, Nasdaq Terjun 4,68 Persen

Penurunan Nasdaq mencerminkan level terendah sejak September 2020, sementara S&P 500 telah melemah lebih dari 20 persen dari rekor tertinggi pada Januari 2022.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 14 Juni 2022  |  05:57 WIB
Wall Street Merosot Tajam! S&P 500 Bearish, Nasdaq Terjun 4,68 Persen
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat merosot tajam pada perdagangan Senin (13/6/2022) waktu setempat lantaran para investor bertaruh pada lonjakan inflasi yang akan memaksa Federal Reserve menjadi lebih agresif dalam menaikkan suku bunga.

Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (14/6/2022), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 2,79 persen atau 876,05 poin ke 30.516,74, S&P 500 tergelicir 3,88 persen atau 151,23 poin ke 3.749,63, dan Nasdaq terjun 4,68 persen atau 530,80 poin ke 10.809,23.

Penurunan Nasdaq mencerminkan level terendah sejak September 2020, sementara S&P 500 telah melemah lebih dari 20 persen dari rekor tertinggi pada Januari 2022, yang berarti secara resmi jatuh ke teritori bearish.

Adapun imbal hasil obligasi Amerika Serikat naik di sepanjang kurva, dengan seri acuan tenor 10 tahun melonjak ke 3,34 persen dan mencapai level tertinggi sejak 2011.

Investor dengan gugup menanti pertemuan penetapan kebijakan terbaru Federal Reserve akhir pekan ini, dengan keputusan suku bunga ditetapkan pada Rabu pekan depan.

Ketika Indeks Harga Konsumen bulanan AS yang lebih panas dari perkiraan pada rilis data pekan lalu, para pedagang secara luas percaya bahwa pertemuan The Fed akan menetapkan panggung untuk kenaikan suku bunga setengah poin lagi oleh bank sentral, membawa kisaran target untuk suku bunga antara 1,25 persen dan 1,50 persen.

Namun, setelah data minggu lalu menunjukkan kenaikan tak terduga dalam inflasi ke rekor tertinggi baru dalam 40 tahun di 8,6 persen untuk Mei 2022, investor telah menaikkan taruhan mereka pada langkah yang lebih besar oleh Fed.

Fed fund futures, indikator yang membantu melacak prediksi pedagang di mana target suku bunga Fed akan mendarat, bergeser dengan cepat setelah laporan Jumat (10/6/2022) dan menunjukkan peningkatan taruhan pada kenaikan 75 basis poin yang bahkan lebih nyata.

Menurut data CME Group pada Senin, Fed fund futures memperkirakan sekitar 25 persen kemungkinan kenaikan tiga perempat poin dan sekitar 75 persen kemungkinan kenaikan 50 basis poin. Baru-baru ini pada pertengahan minggu lalu, investor memperkirakan lebih dari 90 persen kemungkinan bahwa Fed akan memilih kenaikan suku bunga 50 basis poin.

"Ada sangat sedikit rincian laporan [CPI Jumat] yang menunjukkan bahwa tekanan inflasi mereda. Lonjakan harga energi bulan ini berarti bahwa inflasi utama akan tetap mendekati 8,6 persen pada Juni” kata Michael Pearce, ekonom senior Capital Economics.

Kenaikan suku bunga yang sangat besar seperti itu akan menambah lebih banyak tekanan pada saham yang sudah bergejolak dengan lebih meningkatkan biaya pinjaman untuk para perusahaan.

Tetapi pada saat yang sama, pasar saham juga tetap dalam gejolak karena investor harus mempertimbangkan apakah inflasi yang dibiarkan berjalan pada tingkat tinggi selama beberapa dekade saat ini akan mendorong ekonomi ke penurunan lebih dalam.

Sebuah survei telah menunjukkan sentimen konsumen jatuh ke level terendah setidaknya sejak tahun 1970-an dalam menghadapi kenaikan harga.

Menurut beberaka ekonom, mengingat semua ketidakpastian ini, The Fed mungkin memilih untuk melanjutkan jalur sebelumnya untuk menerapkan hanya kenaikan setengah poin dalam waktu dekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street dow jones Kebijakan The Fed nasdaq

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top