Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Jatuh 1,29 Persen Pasca Data Inflasi AS Meroket

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Senin (13/6/2022).
Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022).  Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Senin (13/6/2022).

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 15.00 WIB IHSG parkir pada posisi 6.995,44 atau melemah 1,29 persen. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada rentang 6.924,95 - 6.996,71.

Tercatat, 96 saham menguat, 484 saham melemah dan 116 saham bergerak ditempat. Investor asing tercatat membukukan aksi net foreign buy Rp442,53 miliar.

Investor asing tercatat menjual saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar Rp147,6 miliar, atau yang terbanyak hari ini.

Menyusul di belakangnya adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai Rp115,2 miliar dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp107,3 miliar.

Sementara itu, saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) memimpin jajaran top loser hari ini dengan koreksi 7 persen dan 6,9 persen.

Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Roger M. M. Mengemukakan pelemahan IHSG hari ini dipengaruhi oleh sentimen inflasi Amerika Serikat yang di luar ekspektasi. Data terbaru inflasi Amerika Serikat memperlihatkan inflasi tahunan Mei mencapai 8,6 persen, di atas inflasi April 8,3 persen.

“Sentimen inflasi memberikan pengaruh besar pada turunnya IHSG. Inflasi Amerika Serikat pada Mei ternyata melebihi ekspektasi. Dari prediksi 8,2 persen ternyata naik 8,6 persen,” kata Roger, Senin (13/6/2022).

Inflasi Amerika Serikat yang mencapai level tertinggi dalam 41 tahun makin memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan mengambil kebijakan suku bunga yang lebih agresif. Roger memperkirakan rapat FOMC pada 14—15 Juni ini hampir pasti menghasilkan keputusan kenaikan suku bunga 50 bps.

“Pada pertemuan 14—15 Juni The Fed Sudah dipastikan agenda kenaikan suku bunga 0,5 persen. Kemudian di September juga kemungkinan kembali akan menaikkan suku bunga dengan probabilitasnya masih 60 persen,” kata Roger.

Data inflasi Mei menunjukkan kenaikan di luar ekspektasi. Indeks harga konsumen naik 8,6 persen secara tahunan dibandingkan dengan 8,3 persen pada April 2022 dan merupakan kenaikan terbesar sejak 1981.

Kenaikan ini tak lepas dari harga energi yang melonjak 34,6 persen dibandingkan dengan tahun lalu dan merupakan kenaikan terbesar sejak 2005. Inflasi inti yang tidak termasuk barang pangan bergejolak dan energi naik 0,6 persen dibandingkan dengan April 2022 dan 6 persen secara tahunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper