Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Saham Fluktuatif, Saatnya Profit Taking atau Wait and See?

PT Infovesta Utama menyarankan investor di pasar saham untuk dapat mempertimbangkan aksi profit taking atau wait and see mengingat kondisi pasar yang masih bergerak fluktuatif.
Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022).  Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – PT Infovesta Utama menyarankan investor di pasar saham untuk dapat mempertimbangkan aksi profit taking atau wait and see mengingat kondisi pasar yang masih bergerak fluktuatif.

Perusahaan penyedia data seputar investasi, Infovesta dalam laporan mingguannya memperkirakan kedepan pelaku pasar akan lebih mewaspadai kondisi pasar global meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja positif pada pekan lalu.

Berdasarkan data Bursa Efek Indones (BEI), IHSG pada perdagangan pekan lalu, periode 20 Mei 2022 hingga 27 Mei 2022, tercatat menguat sebesar 1,56 persen dan parkir di level 7.026,26.

Sementara berdasarkan data Bloomberg, dalam sebulan terakhir tercatat melemah sebesar 2,65 persen, setelah pada sesi pertama perdagangan di akhir bulan ini, Selasa (31/5/2022) ditutup di level 7.083,10 dengan penguatan 0,65 persen atau 45,53 poin.

Infovesta mengungkapkan, kinerja positif IHSG pekan lalu didukung oleh berbagai faktor diantaranya respon penanganan Bank Indonesia (BI) yang optimis mempertahankan suku bunga BI-7 Days RR di level 3,5 persen, ditengah tekanan lonjakan inflasi yang telah dirasakan beberapa negara.

“Faktor lainnya adalah kenaikan harga komoditas yang masih berlanjut menyusul belum tuntasnya konflik Rusia-Ukraina,” tulis Infovesta dalam laporan mingguan dikutip Selasa (31/5/2022).

Laporan tersebut menyebutkan konflik yang belum mereda tersebut masih berpotensi menggerek harga komoditas kedepannya.

Selain itu, menurutnya dari dalam negeri kenaikan harga komoditas salah satunya mempengaruhi pertumbuhan penerimaan pajak sepanjang tahun sebesar 53,04 persen menjadi Rp679,99 triliun dari target APBN 2022 hingga 26 Mei 2022.

Meskipun pada pekan lalu sentimen positif tersebut mendorong kenaikan IHSG, Infovesta memperkirakan kedepannya pasar akan lebih mewaspadai kondisi pasar global karena adanya ancaman inflasi, suku bunga tinggi dan risiko perlambatan ekonomi yang akan terjadi dalam waktu yang bersamaan.

“Oleh karena itu, investor dapat mempertimbangkan untuk profit taking ditengah market yang fluktuatif atau wait and see sambil terus memantau perkembangan isu dan sentimen di pasar,” tulisnya.

Di sisi lain, berdasarkan data Bloomberg, di akhir sesi I hari ini, jumlah transaksi yang tercatat sebanyak Rp9,82 triliun, dengan dominasi aksi jual investor domestik sebesar 39,19 persen atau sebanyak Rp7,7 triliun.

Sementara investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp685,25 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper