Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mata Uang di Asia Reli Usai The Fed Kerek Suku Bunga, Bagaimana Nasib Rupiah?

Selera investor ke aset berisiko di negara berkembang menguat setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps pada Kamis (5/5/2022). Sementara itu, pasar Indonesia masih tutup libur Lebaran.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 05 Mei 2022  |  14:40 WIB
Uang dolar dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (26/4/2022) Bisnis - Himawan L Nugraha
Uang dolar dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (26/4/2022) Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Mata uang di negara berkembang Asia reli setelah keputusan Bank Sentral AS (Federal Reserve) menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi.

Selera investor ke aset berisiko di negara berkembang meningkat usai The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps, sehingga suku bunga dana federal mencapai 0,75 persen — 1 persen.

Kenaikan suku bunga kali ini merupakan yang kedua kalinya, setelah The Fed mengerek suku bunga Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 bps pada Maret 2022.

Mengutip Bloomberg pada Kamis (5/5/2022) pukul 14.28 WIB, terpantau sejumlah mata uang di kawasan negara berkembang Asia menguat. Dolar Taiwan naik 0,13 persen, peso Filipina naik 0,23 persen, won Korea Selatan naik 0,73 persen, dan ringgit Malaysia naik tipis 0,09 persen.

Sedangkan rupiah masih stagnan karena libur Lebaran.

Di sisi lain, indeks dolar AS tumbang usai pengumuman kenaikan suku bunga tersebut, sebelum akhirnya menguat lagi 0,20 persen menjadi 102,79.

Kiyong Seong, Strategist di Societe Generale SA menyampaikan mata uang Asia mengambil momentum setelah melemah baru- baru ini.

“Kami memperkirakan kenaikan ini hanya sementara, setidaknya hanya beberapa minggu. Namun, sentimen negatif dari The Fed yang akan terus menaikkan suku bunga akan tetap membebani mata uang negara berkembang dalam jangka panjang,” katanya di Hong Kong, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (5/5/2022).

Reli mata uang negara berkembang dinilai akan memudar karena pandemi Covid-19 di China akan membebani pemulihan ekonomi global. Sedangkan The Fed tidak bisa mengelak dari pengetatan moneter akibat inflasi yang terus naik.

Di sisi lain, Global Market Strategist JPMorgan Asset Management Clara Cheong memperkirakan apabila inflasi di AS bergerak moderat maka kemungkinan The Fed bisa mengurangi nada hawkish-nya.

“Pelemahan dolar ke depannya juga akan membantu kenaikan pasar saham, khususnya di kawasan Asia mengecualikan Jepang,” ujar Cheong.

Sebelum lebaran, rupiah ditutup turun 81 poin atau 0,56 persen ke level Rp14.493,5 per dolar AS pada Kamis (28/4/2022). Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp14.480-Rp14.530 per dolar AS.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mata uang Kebijakan The Fed

Sumber : Bloomberg

Editor : Dwi Nicken Tari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top