Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

The Fed Kerek Suku Bunga, Bursa Asia Dibuka Variatif

Bursa di kawasan Asia Pasifik dibuka variatif setelah Bank Sentral AS (Federal Reserve) kerek suku bunga sebesar 50 bps dalam FOMC Meeting.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 05 Mei 2022  |  08:56 WIB
Salah satu layar perdagangan di bursa saham China. - Bloomberg
Salah satu layar perdagangan di bursa saham China. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa di kawasan Asia Pasifik dibuka variatif setelah Bank Sentral AS (Federal Reserve) mengerek suku bunga sebesar 50 bps.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (5/5/2022) pukul 08.40 WIB, indeks Hang Seng menguat 1,41 persen di Hong Kong dan indeks Kospi melemah 0,11 persen di Korea Selatan. Sementara itu, bursa di Jepang, China, dan Indonesia masih tutup.

Sementara itu, yield obligasi di AS melonjak dan dolar AS terpantau melemah. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama dunia turun 0,10 persen menjadi 102,48.

Sebelumnya, Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan kenaikan suku bunga sebesar 75 bps bukanlah keputusan yang diinginkan komite. Pernyataan itu sempat membuat pasar reli. Adapun, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 bps dan memberikan sinyal untuk mengambil langkah serupa dalam beberapa pertemuan berikutnya.

“Mengurangi ketidakpastian sangat membantu kembalikan uang ke pasar, baik dalam bentuk obligasi maupun saham,” kata CIO Main Street Asset Management LLC Erin Gibbs, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (5/5/2022).

Selain menaikkan suku bunga, The Fed juga tetap mengurangi kepemilikan surat utang negara atau Treasury AS dan Efek Beragun Aset KPR (Mortgage-backed Securities/MBS) sebesar US$47.5 miliar per bulan, sebelum ditambah menjadi US$95 miliar dalam tiga bulan.

Reaksi pasar dinilai akan berkembang setelah mencermati pernyataan Powell. Adapun, pengetatan moneter telah terjadi di beberapa negara bersamaan dengan kenaikan harga komoditas dan dampak perang Rusia Ukraina ke inflasi yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

CIO Quadratic Capital Management LLC Nancy Davis mengingatkan bahwa pasar tampak terlalu optimistis menilai kekuatan The Fed mengendalikan inflasi.

“Kita mungkin saja akan menghadapi situasi stagflasi,” ujar Davis.

Pelaku pasar pun memperkirakan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga lebih dari 150 bps dalam pertemuannya pada Juni, Juli, dan September. Proyeksi itu menimbulkan keraguan mengenai kenaikan suku bunga sebanyak 3 kali lagi di sisa tahun ini.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia indeks saham

Sumber : Bloomberg

Editor : Dwi Nicken Tari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top