Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Philip Morris Dorong Inklusivitas dan Pemulihan Ekonomi pada B20-G20

Kolaborasi antara swasta dengan pemerintah sangat penting untuk mendorong pemulihan ekonomi yang lebih baik bagi semua orang.
Media Digital
Media Digital - Bisnis.com 28 April 2022  |  10:44 WIB
Foto: dok. South & Southeast Asia Region PMI
Foto: dok. South & Southeast Asia Region PMI

Bisnis.com, JAKARTA – Philip Morris International (PMI), induk perusahaan PT HM Sampoerna Tbk., menyebutkan kolaborasi antara pemerintah dan swasta sangat penting untuk pemulihan ekonomi. Terlebih lagi, tahun ini merupakan momentum yang luar biasa untuk mendorong kolaborasi antarpihak tersebut, di saat Indonesia memegang presidensi Group of Twenty (G20).

President South & Southeast Asia Region PMI, Stacey Kennedy, mengatakan bahwa salah satu yang dilakukan PMI untuk mendukung Presidensi G20 Indonesia ialah mendorong inklusivitas dan fokus pada pemulihan bersama. Hal ini dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah dengan swasta.

“Dunia ini telah mengalami beberapa tahun yang sulit dalam banyak aspek, dan pemulihan ini sangat penting. Pemulihan hanya berfungsi jika pemulihan untuk semua orang, termasuk negara berkembang, negara maju, perusahaan besar, UMKM, dan semua orang,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

Stacey mengaku sangat terkesan Presidensi G20 Indonesia yang mengangkat tema “Recover Together Recover Stronger.” Presidensi G20 Indonesia, katanya, sangat penting dan selaras dengan prioritas bisnis Sampoerna yakni mendorong inklusivitas dan tumbuh bersama seluruh ekosistem, mulai dari para pelaku UMKM, petani, mitra ritel tradisional, mitra bisnis dan pemerintah.

Dia menuturkan, inklusivitas berarti bahwa pelaku usaha perlu diajak berdiskusi dan memiliki suara ketika pemerintah membuat suatu kebijakan. Kolaborasi antara swasta dengan pemerintah ini sangat penting untuk mendorong pemulihan ekonomi yang lebih baik bagi semua orang.

Dalam kolaborasi itu, Stacey berharap pemerintah membuat kebijakan dengan prediktabilitas seputar kemudahan berusaha yang membuat sektor swasta tertarik untuk berinvestasi di negara seperti Indonesia, dan ke depannya juga dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk UMKM maupun komunitas sebagai bagian dari masyarakat.

Paralel dengan perhelatan G20, komunitas bisnis internasional juga diberi wadah untuk berdialog melalui forum Business of Twenty (B20) yang terbagi dalam sejumlah gugus tugas atau Task Force yang berfokus pada isu berbeda. Pelibatan komunitas bisnis seperti pada B20 melalui task force yang dibentuk tersebut memungkinkan suara swasta didengar agar kebijakan yang lebih baik dapat terwujud, misalnya untuk sektor perdagangan dan investasi.

“Salah satu anggota Dewan Direksi PMI, Dr. Juan José Daboub, adalah co-chair di B20 dalam Task Force Trade & Investment. Ini sangat penting bagi B20, yang nantinya akan mengajukan rekomendasi kebijakan untuk membantu pemulihan ini bersama-sama, secara inklusif bagi semua orang,” tambahnya. 

Foto: dok. South & Southeast Asia Region PMI


Stacy melanjutkan, aspek lain dari inklusivitas ialah untuk memastikan investasi bisnis berdampak bagi semua pihak termasuk UMKM. Ia memberikan contoh melalui program Sampoerna Retail Community (SRC), yang saat ini menaungi lebih dari 160.000 toko kelontong. Melalui SRC, Sampoerna memberikan berbagai pembinaan dan pelatihan kepada pelaku UMKM, yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

“Saya pikir itu cara yang benar dan menawarkan contoh nyata bagaimana sektor swasta dan pemerintah bekerja sama untuk perekonomian dan kehidupan masyarakat yang lebih baik,” katanya.

Adapun, sejak mengakuisisi Sampoerna pada 2005, PMI telah merealisasikan investasi senilai US$6,1 miliar. Baru-baru ini, Sampoerna mengumumkan realisasi investasi tambahan sekitar US$ 166,1 juta untuk pembangunan fasilitas produksi untuk batang tembakau bagi IQOS dengan merek HEETS, di Karawang, Jawa Barat, Indonesia.

Produk anyar tembakau yang dipanaskan milik Sampoerna ini akan diproduksi di Indonesia, oleh orang Indonesia, dengan sebagian kandungan tembakau asli Indonesia, dan ditujukan untuk memenuhi permintaan domestik dan ekspor.

Presiden Direktur Sampoerna, Mindaugas Trumpaitis menambahkan selama ini perusahaannya sudah memberikan contoh nyata bagaimana sektor swasta dan pemerintah berkolaborasi demi mendukung pertumbuhan ekonomi dan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

“Saya mendampingi Dr. Daboub dan berpartisipasi dalam setiap rapat yang membahas tentang rekomendasi kebijakan di Task Force Trade & Investment B20. Pesan utama yang didiskusikan adalah tentang inklusivitas, keberlanjutan, serta dukungan bagi UMKM, karena mereka adalah tulang punggung perekonomian yang sangat penting, khususnya di Indonesia,” katanya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hm sampoerna philip morris
Editor : Media Digital

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top