Lo Kheng Hong: Trading Hanya Hasilkan Uang Receh

Menurut Lo Kheng Hong, aksi membeli dan menyimpan saham akan membuat investor kaya. Sebaliknya, aksi trading, apalagi scalping, hanya akan memperkaya pihak sekuritas.
Layar menampilkan General Manager Content Bisnis Indonesia Gajah Kusumo (kiri) dan Investor Lo Kheng Hong memberikan pemaparan dalam Bisnis Indonesia  Business Challenges 2022 di Jakarta, Rabu (15/12/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Layar menampilkan General Manager Content Bisnis Indonesia Gajah Kusumo (kiri) dan Investor Lo Kheng Hong memberikan pemaparan dalam Bisnis Indonesia Business Challenges 2022 di Jakarta, Rabu (15/12/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

<p><b>Bisnis.com</b>, JAKARTA - <a href="https://www.bisnis.com/topic/24864/investor-saham">Investor</a> kawakan <a href="https://www.bisnis.com/topic/24861/lo-kheng-hong">Lo Kheng Hong</a> mengakui dirinya selalu menjadi value investor di pasar modal dan tidak melakukan <i>trading</i>.</p> <p>Pak Lo, sapaan akrabnya, mengatakan trading hanya akan menghasilkan uang receh dibandingkan dengan menyimpan saham.</p> <p>"Saya dari dulu sudah jadi value investor, tidak <i>trading</i>. Karena kalau kita <i>trading</i>, yang kita dapat uang receh. Tetapi, kalau kita beli dan simpan, kita hold, akan dapat uang besar," kata Lo Kheng Hong dalam launching buku dan <i>talkshow</i> dengan Lo Kheng Hong, Sabtu (23/4/2022).</p> <p>Menurutnya, aksi membeli dan menyimpan saham akan membuat investor kaya. Sebaliknya, aksi trading, apalagi scalping, hanya akan memperkaya pihak sekuritas.</p> <p>"Kalau <i>buy and hold</i>, kita akan kaya. Tetapi kalau kita <i>trading</i>, apalagi <i>scalping</i>, yang kaya sekuritasnya," tutur Lo Kheng Hong.</p> <p>Lebih lanjut, Lo Kheng Hong bercerita di beberapa tahun pertama masuk ke pasar modal dirinya selalu gagal. Apalagi 30 tahun yang lalu terdapat kebijakan tight money policy yang membuat harga-harga saham turun.</p> <p>Kebijakan tersebut membuat investasi Lo Kheng Hong selama tiga tahun pertama di pasar modal mengalami kerugian.</p> <p>"Akhirnya Tahun 1993 <i>tight money policy</i> itu dilepas, dilonggarkan, harga-harga saham naik dan saya mendapatkan keuntungan besar," ucapnya</p>

 
Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro