Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News bisnisindonesia.id : Dari Geliat IPO di Bursa, Peluang Rajai Pasar Tuna hingga Harga Properti

Selain menyoroti geliat IPO di lantai bursa, redaksi bisnisindonesia.id juga menyoroti sejumlah berita ekonomi dan bisnis lainnya yang dikemas secara lebih mendalam dan analitik.
Rustam Agus
Rustam Agus - Bisnis.com 22 April 2022  |  07:53 WIB
Seremoni pencatatan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/4/2022). GoTo meraih dana Rp15,8 triliun dari IPO dan penjualan saham treasury. - Istimewa
Seremoni pencatatan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/4/2022). GoTo meraih dana Rp15,8 triliun dari IPO dan penjualan saham treasury. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Minat calon emiten untuk melantai di Bursa Efek Indonesia diproyeksi masih tinggi. Penggalangan dana di pasar modal terutama melalui penawaran umum perdana (IPO) saham masih bakal tumbuh di tengah tekanan geopolitik global.

Selain menyoroti geliat IPO di lantai bursa, redaksi bisnisindonesia.id juga menyoroti sejumlah berita ekonomi dan bisnis lainnya yang dikemas secara lebih mendalam dan analitik.

Berikut lima berita pilihan editor bisnisindonesia.id untuk edisi Jumat (22/4)

1. GELIAT IPO TAK SURUT DI TENGAH TEKANAN GEOPOLITIK GLOBAL

Meski kondisi geopolitik  kurang mendukung, nyatanya tidak menyurutkan aktivitas penggalangan dana melalui aksi penawaran saham perdana atau initial public offering/IPO perusahaan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Buktinya tren IPO menunjukan angka peningkatan. Bahkan diproyeksikan  masih akan bertumbuh.

Realisasi IPO hingga 1 April 2022 mencapai 14 emiten baru dengan penggalangan dana Rp16,93 triliun. Dari IPO tersebut,penggalangan dana terbesar berasal dari perusahaan teknologi, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO)  

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021, realisasi tersebut lebih tinggi karena pada periode itu hanya dilakukan 12 emiten dengan dana  yang terkumpul Rp2,13 triliun. 

2. SIASAT TUNA INDONESIA RAJAI PASAR DUNIA

Ekspor ikan tuna Indonesia masih menghadapi tantangan untuk menjadi pemasok utama pasar dunia meskipun kini tercatat menjadi negara produsen pertama di dunia dengan pangsa produksi mencapai 15 persen. 

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat peningkatan produksi tuna, cakalang, dan tongkol Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi dunia.

Produksi Indonesia mengalami kenaikan rata-rata 3,66 persen, lebih tinggi dari kenaikan rata-rata dunia sebesar 3,42 persen," tutur Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk KKP Erwin Diwayana.

Saat ini Indonesia menjadi produsen tuna terbesar di dunia diikuti oleh Filipina dengan pangsa produksi 7,3 persen, Vietnam 6,6 persen, dan Ekuador 6,1 persen. “Produksi tuna terbesar di Indonesia dari jenis skipjack tuna dan yellowfin tuna.”

3. KUDA-KUDA MULTIFINANCE DI PEMBIAYAAN MOBIL LISTRIK

Industri pembiayaan atau multifinance nampaknya telah pasang kuda-kuda untuk ikut ambil bagian sebagai penyedia kredit kendaraan berbasis listrik.

Apalagi, Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) menjadi agenda besar pemerintah untuk menekan emisi karbon.  Tak heran, agenda tersebut juga diikuti oleh perusahaan pelat merah maupun swasta selaku penyedia infrastruktur, hingga pelaku usaha di sektor pendukung industri tersebut. 

Kondisi tersebut diperkuat dengan adanya stimulus  pemacu penyaluran kredit produktif maupun konsumtif untuk segala hal terkait KBLBB, masifnya pembangunan infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), serta mencuatnya beragam aktivitas para petinggi negara yang mengisyaratkan dukungan terhadap ekosistem KBLBB.

4. GELIAT HILIR SAWIT MULAI BERGAIRAH LAGI

Setelah sempat tercoreng gonjang-ganjing kelangkaan dan gejolak harga minyak goreng, geliat industri hilir minyak kelapa sawit tampaknya mulai bergairah kembali seiring meredanya pandemi.

Kalangan pelaku industri hilir kelapa sawit optimis produksi dan permintaan akan tumbuh tahun ini setelah pulihnya kegiatan perekonomian masyarakat di tengah pandemi.

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memperhitungkan tahun ini, konsumsi sawit di sektor makanan bakal tumbuh 3,8 persen dibandingkan dengan serapan konsumsi pada 2021.

5. HARGA PROPERTI BOLEH JADI OVERVALUE, TAPI TIDAK BUBBLE

Harga properti di Jakarta dan sekitarnya ternyata terhitung mahal bahkan apabila dibandingkan dengan beberapa properti yang berlokasi di resor mewah di Eropa. Lantas, apakah memang harga properti di Ibu Kota dan sekitarnya telah begitu mahal?

Ataulah level harga “selangit” itu memang riil alias ada pembelinya? Atau apakah itu merupakan tingkat harga yang merupakan hasil “gorengan” sehingga layak disebut sebagai bubble atau menggelembung?

Menurut pengamat bisnis properti Ali Tranghanda, harga properti di Indonesia sejauh ini tidak “digoreng”, karena kenyataannya memang ada pembelinya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ipo ikan tuna
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top