Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jadi Jawara Tahun Lalu, Bagaimana Prospek Reksa Dana Campuran pada 2022?

Sepanjang tahun 2021, reksa dana campuran menjadi jenis aset dengan return tertinggi dengan 4,94 persen secara year to date (ytd).
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 18 Januari 2022  |  14:58 WIB
ilustrasi investasi reksa dana
ilustrasi investasi reksa dana

Bisnis.com, JAKARTA – Pemulihan ekonomi yang berlanjut akan menjadi katalis positif bagi prospek kinerja instrumen reksa dana campuran pada tahun 2022. Sejumlah strategi telah disiapkan oleh perusahaan manajer investasi (MI) untuk mencetak return yang optimal pada instrumen ini.

Berdasarkan data Infovesta Utama, sepanjang tahun 2021 lalu reksa dana campuran menjadi jenis aset dengan return tertinggi dengan 4,94 persen secara year to date (ytd). Menyusul di belakangnya adalah reksa dana pasar uang dengan return 3,26 persen ytd, reksa dana pendapatan tetap (2,32 persen ytd), dan reksa dana saham (1,03 persen ytd).

Direktur Panin Asset Management (Panin AM) Rudiyanto mengatakan prospek kinerja reksa dana campuran pada tahun ini masih cukup positif. Hal tersebut salah satunya ditopang oleh pemulihan ekonomi yang diprediksi berlanjut pada tahun 2022.

Pemulihan ekonomi tersebut akan berimbas positif pada kinerja emiten-emiten di bursa. Hal ini juga akan berdampak pada kenaikan kinerja reksa dana campuran yang umumnya memiliki aset dasar berupa saham, obligasi, dan deposito.

“Jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mencapai 7.400 – 7.600, maka akan menjadi sentimen positif bagi saham dan reksa dana campuran,” jelasnya saat dihubungi, Selasa (18/1/2022).

Seiring dengan hal tersebut, Rudiyanto mengatakan Panin AM akan mengoptimalkan bobot saham dalam pencapaian return reksa dana campuran tahun ini. Ia mengatakan, Panin AM memilih perusahaan yang kinerjanya diperkirakan pulih sehubungan dengan kondisi pandemi yang semakin terkendali.

“Diharapkan perbaikan pada laporan keuangan dapat menjadi sentimen positif yang mengangkat harga saham,” lanjutnya.

Secara terpisah, Direktur Utama Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan pergerakan tingkat suku bunga dan kebijakan tapering akan turut mempengaruhi kinerja instrumen reksa dana campuran.

Ia mengatakan kebijakan tersebut akan menekan produk-produk reksa dana campuran yang aset dasarnya lebih banyak pada obligasi atau surat utang. Meski demikian, menurutnya prospek reksa dana campuran masih cukup baik dan dapat dijadikan sebagai salah satu opsi bagi para investor.

“Prospeknya masih cukup baik, dari sisi risiko reksa dana campuran secara keseluruhan juga lebih moderat dibandingkan dengan reksa dana saham,” ujarnya.

Pada tahun ini, Pinnacle menerapkan strategi kuantitatif dan dynamic asset allocation model pada produk reksa dana campurannya. Strategi ini menyesuaikan bobot alokasi aset secara dinamis dan taktis sesuai dengan kondisi pasar.

Ia menuturkan, penerapan bobot kelas aset dari saham, obligasi, dan pasar uang akan disesuaikan dengan faktor risiko pasar yang ada secara berkala.

“Dalam pemilihan jenis aset dasar saham atau obligasi, kami menerapkan strategi kuantitatif juga dengan pembentukan portfolio yang optimal dari sisi risiko dan return,” pungkasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana reksa dana campuran
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top