Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Babak Baru Perekonomian Dimulai, Waktunya Emiten Old Economy Bangkit?

Babak baru perekonomian Indonesia terasa setelah akselerasi vaksinasi yang kemudian juga diikuti dengan efek positif dari peraturan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19. 
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 27 Desember 2021  |  07:56 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (21/12/2021). Bisnis - Suselo Jati
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (21/12/2021). Bisnis - Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia saat ini dipercaya memasuki babak baru perekonomian setelah keadaan membaik pada masa pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, riset pun menyebutkan adanya potensi pemulihan ekonomi yang juga mendorong kinerja emiten yang telah mapan atau juga dikenal dengan istilah old economy

Analis Astronacci Faishal Idris dalam risetnya mengungkapkan bahwa babak baru perekonomian Indonesia terasa setelah akselerasi vaksinasi yang kemudian juga diikuti dengan efek positif dari peraturan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19. 

“Hal tersebut memberikan harapan baru bagi investor pasar modal Indonesia, baik asing maupun domestik,” tulis Faishal dalam riset yang dipublikasikan pada Bloomberg, dikutip Minggu (26/12/2021). 

Faishal menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di Tanah Air pada kuartal III/2021 mencapai 3,51 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya atau year on year (yoy) dan terus membaik. 

Kondisi tersebut ungkapnya membawa Indonesia keluar dari posisi resesi dan memunculkan optimisme baru dalam berinvestasi. Dengan perkembangan positif ini, lanjutnya pasar juga tercatat menyumbang sebesar Rp1.200 triliun bagi pembangunan ekonomi. 

Sementara itu, di Amerika Serikat, indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) terus melonjak. Di mana pada November 2021, posisi CPI AS naik 6,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2020. 

Adapun pemerintah AS dalam laporan yang dirilis pada 10 Desember 2021 lalu menyebutkan peningkatan itu merupakan lonjakan terbesar setelah Juni 1982. Mereka menjelaskan bahwa kenaikan CPI tersebut karena kenaikan berbagai harga barang. 

Berdasarkan laporan tenaga kerja AS, kenaikan tersebut termasuk meningkatnya harga bensin sebesar 6,1 persen, sementara itu biaya sewa, mobil bekas dan makanan juga turut naik. 

Akibatnya beberapa indeks di AS juga turut naik, Dow Jones Industrial Average naik 0,60 persen, S&P 500 naik 0,95 persen dan Nasdaq naik 0,73 persen. 

Berdasarkan kondisi di atas, Astronacci kemudian mengungkapkan bahwa IHSG ke depan berpotensi menekan resistance dan memiliki kesempatan untuk melanjutkan penguatan. 

“Kami merekomendasikan portofolio anda untuk memasuki berbagai sektor dengan pilihan BMRI, AKRA, ARTO, BBRI, dan MDKA,” tulis Faishal. 

Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia Edward Tanuwijaya juga mengungkapkan dalam risetnya juga mengungkapkan hal serupa. 

Edward menyatakan harga sektor energi saat ini naik ke level tertinggi. Di mana hal tersebut jelasnya belum pernah terjadi sebelumnya karena pasokan terbatas dan juga tidak tersedianya sumber-sumber energi alternatif lain. 

Oleh karena itu, jelasnya harga sektor energi sama sekali tidak dapat mengikuti keinginan terpendam seiring dengan ekonomi global secara bertahap saat ini kembali dibuka. 

Producer price index pada beberapa hal penting jelas Edward melewati indeks CPI yang menandakan tekanan inflasi yang akan datang yang mungkin menghasilkan potensi kompresi margin ke depan.

“Selain itu, kesenjangan dalam biaya pengiriman yang disebabkan oleh ketidakseimbangan perdagangan internasional dapat memperburuk tekanan inflasi,” tulis Edward dalam riset yang dipublikasikan Bloomberg, dikutip Minggu (26/12/2021). 

Di sisi lain, Edward mengungkapkan bahwa beberapa koreksi di pasar domestik diperlukan ketika AS akhirnya mengurangi pembelian obligasinya terutama untuk kelas aset yang sensitif terhadap perubahan imbal hasil. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pemulihan ekonomi old economy
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top