Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Naphtha Naik! Margin Emiten Petrokimia Bisa Tergerus, Cek TPIA & BRPT

Prospek industri petrokimia akan positif jika biaya energi menjadi normal, yang mengarah ke permintaan global yang lebih tinggi dan harga naphtha yang lebih rendah.
Pekerja mengoperasikan mesin di komplek pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), Cilegon, Banten./Antara - Muhammad Iqbal
Pekerja mengoperasikan mesin di komplek pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), Cilegon, Banten./Antara - Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA - Harga naphtha yang naik diperkirakan bisa menjadi ancaman bagi margin emiten petrokimia hingga 2022.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Ignatius Teguh Prayoga dalam risetnya mengatakan, industri petrokimia masih menghadapi ancaman kelebihan pasokan yang berasal dari kapasitas petrokimia global baru dan permintaan yang lebih rendah dari sektor manufaktur global karena biaya energi yang naik.

Meski demikian, kata dia, permintaan petrokimia domestik Indonesia masih kuat karena pembatasan mobilitas sosial telah berkurang dan sebagian besar produsen lebih memilih membeli produk petrokimia dalam negeri, untuk menghindari masalah logistik.

"Namun, turbulensi petrokimia global masih akan mempengaruhi perusahaan petrokimia domestik karena margin tertekan akibat kenaikan harga naphtha," kata Ignatius, Rabu (8/12/2021).

Dia melanjutkan, biaya naphtha yang tinggi tersebut membahayakan margin emiten petrokimia. Dengan kenaikan harga minyak, margin petrokimia telah ditekan sejak pertengahan 2021, meskipun ASP olefin dan poliolefin membaik.

"Kami masih memperkirakan tren ini akan berlanjut pada tahun 2022 karena lebih banyak kapasitas global akan ditambahkan, harga naphtha masih tinggi, dan permintaan mungkin tidak pulih dengan cepat karena biaya energi masih tinggi," ujar dia.

Namun, lanjutnya, prospek industri ini akan positif jika biaya energi menjadi normal, yang mengarah ke permintaan global yang lebih tinggi dan harga naphtha yang lebih rendah. Pasalnya, harga naphtha sangat berkorelasi dengan harga minyak.

Adapun BRI Danareksa Sekuritas memilih saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) sebagai pilihan utama di sektor ini. Ignatius menuturkan, margin akan menjadi fokus utama pihaknya di sektor petrokimia pada 2022.

"Kami menyukai TPIA karena penilaian kami yang positif, perkembangan positif pada strateginya untuk menggantikan produk petrokimia impor nasional dan dukungan dari mitra barunya, Thai Oil, yang dapat memberikan manfaat operasional," tuturnya.

Adapun BRI Danareksa Sekuritas memiliki target price Rp9.900 untuk saham TPIA dan Rp1.000 untuk saham emiten petrokimia lainnya, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT).

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper