Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PREMIUM WRAP UP : Langkah BBNI Menuju Bank Digital, Emiten Nikel, & Lo Kheng Hong Soal BMTR

Rencana akuisisi Bank Negara Indonesia, peluang saham Bukalapak.com bangkit, hingga valuasi saham BMTR menurut Lo Kheng Hong menjadi beberapa kabar pasar yang mencuri perhatian pada Selasa (18/10/2021).
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 19 Oktober 2021  |  21:45 WIB
Gedung BNI - Istimewa
Gedung BNI - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Manajemen PT Bank negara indonesia (Persero) Tbk. memastikan akan melakukan akuisisi bank mini untuk bertarung dengan segmen new economy yang disebut dengan bank digital.

Kepastian emiten pelat merah perbankan dengan kode saham BBNI untuk melakukan tahapan akusisi bank mini data dari manajamen puncak perseroan yakni Direktur Utama BNI Royke Tumilaar. Namun, dia belum menyebut secara jelas nama bank mini yang akan diakuisisi.

1. BNI (BBNI) Finalisasi Akuisisi untuk Bank Digital Kolaborasi dengan Perusahaan Teknologi

Identitas yang terang dari perusahaan yang akan dicaplok BNI adalah salah satu bank mini. Bahkan tahapan pencaplokan ini sudah sampai penyelesaian kesepakatan awal. 

Meski tidak lugas menyebutkan akuisisi seperti Royke, Direktur Keuangan BNI Novita Anggraini mengatakan akselerasi kapabilitas digital sudah menjadi bagian dan program transformasi BNI.

Sejatinya, rencana bank dengan kode emiten BBNI tersebut untuk melakukan akuisisi bank BUKU 2 sempat disampaikan pada Maret 2019. Dalam pemberitaan Bisnis, setidaknya ada 2 rencana aksi yang disiapkan perseroan sejak 2 tahun lalu.

Baca selengkapnya klik di sini

2. Kans Emiten Nikel ANTM, INCO dkk di Krisis Energi China

Krisis energi listrik yang terjadi turut berimbas terhadap pergerakan harga nikel. Seberapa besar dampaknya terhadap kinerja emiten terkait seperti Aneka Tambang (Antam) hingga Vale Indonesia (INCO)?

Krisis listrik yang terjadi di China berpotensi melemahkan permintaan bahan baku logam untuk diolah sehingga dikhawatirkan akan ada pengetatan pasokan di tengah persediaan yang sudah rendah.

Baca selengkapnya klik di sini 

3. Sepak Terjang Aguan, Bos Agung Sedayu Group yang Caplok Saham PANI

Dokumen yang diungkapkan oleh PT Pratama Abadi Nusa Industri Tbk. (PANI) atas pengendali terakhir entitas yang mengakuisisi mereka menunjukkan nama bos besar Agung Sedayu Sugianto Kusuma alias Aguan dan Susanto Kusumo di belakangnya. Kedua konglomat ini bermitra dengan petinggi Grup Salim.

Harga saham PT Pratama Abadi Nusa Tbk. (PANI) tidak lagi bergerak pada perdagangan hari ini, Selasa (19/10/2021) setelah kemarin menyentuh batas auto reject atas (ARA). Ditutup pada level Rp1.175 per saham, saham PANI kembali di suspen oleh Bursa Efek Indonesia. 

Alasannya, investor diminta mencermati informasi yang ada karena emiten pembuat kaleng ini telah menguat 135 persen hanya dalam kurun sepekan terakhir. Penguatan saham PANI, terjadi seiring aksi akuisisi saham mayoritas perseroan oleh PT Multi Artha Pratama (MAP).

Perusahaan yang dimiliki langsung oleh konglomerasi Agung Sedayu Group (ASG) dan dengan entitas PT Tunas Mekar Jaya. Koneksi inilah yang kemudian memunculkan desas-desus rencana backdoor listing ASG via PANI.

Baca selengkapnya klik di sini 

4. Kala Lo Kheng Hong Adu Saham BMTR VS EMTK

Investor yang mendapat julukan Warren Buffett Indonesia, Lo kheng hong, kembali mengakumulasi kepemilikan saham PT Global mediacom Tbk. (BMTR). Pak Lo, sapaan akrabnya, terpantau beberapa kali melakukan pembelian saham BMTR sejak awal September 2021.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, awal September 2021, Pak Lo terpantau beberapa kali memborong saham BMTR. Pertama, sebanyak 1 juta lembar pada 3 September 2021. 

Kedua, 2,4 juta lembar pada 7 September 2021. Ketiga, 500.000 lembar pada 8 September 2021. Setelah beberapa kali pembelian pada awal September, kepemilikan Lo Kheng Hong naik menjadi 6,18 persen atau setara 1,02 miliar lembar.

Baca selengkapnya klik di sini

5. Mengintip Peluang Rebound Saham Bukalapak (BUKA)

Saham emiten E-commerce, PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA), kembali terjerembab di zona merah, bahkan di bawah harga penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). 

Pada perdagangan Senin (18/10/201), saham BUKA memerah dan anjlok hingga 3,42 persen  ke level 705. Level tersebut menjauh dari harga IPO. Sebagai pembanding harga IPO BUKA sebesar Rp850 per saham. 

Selama satu pekan sebelumnya, saham Bukalapak sudah mengalami penurunan berurut-turut meskipun sempat memantul di zona hijau. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total nilai transaksi saham BUKA mencapai Rp189,10 miliar, sedangkan volume saham yang ditransaksikan mencapai 2,6 juta lot.

Baca selengkapnya klik di sini 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN perbankan rekomendasi saham bank negara indonesia lo kheng hong bukalapak
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top