Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PREMIUM NOTES : Go Digital Grup Astra (ASII) dan Rights Issue Allo Bank (BBHI)

Meski harus bersaing dengan nama-nama besar seperti Gopay, OVO, hingga Linkaja, Grup Astra optimistis layanan dompet digitalnya memiliki pangsa pasar tersendiri yang tidak kalah menjanjikan.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 10 September 2021  |  08:07 WIB
PREMIUM NOTES : Go Digital Grup Astra (ASII) dan Rights Issue Allo Bank (BBHI)
Menara Astra. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Grup Astra melalui entitas induk PT Astra International Tbk. (ASII) berkata bahwa investor tak perlu khawatir dengan prospek perusahaan-perusahaannya. ASII menjanjikan bahwa mereka akan terus berburu sumber pendapatan baru, termasuk potensi keran pemasukan dari new economy.

"Dengan pertumbuhan Indonesia dan optimisme tinggi, peluang baru tetap dicari," kata Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro dalam paparan publik, Kamis (9/9/2021).

Lompatan besar juga dilakukan perusahaan terhadap layanan yang diberikan. Saat ini, pilar bisnis keuangan misalnya, termasuk pembiayaan kendaraan hingga asuransi, tengah diupayakan berkonsolidasi dalam satu opsi dompet digital.

1. Jalan Digital Astra (ASII): Persaingan Terbuka dengan GoPay, OVO, Hingga LinkAja Dimulai

Rencananya, Astra akan meluncurkan secara resmi pilar transformasi digital ekosistem Astra melalui Moxa dan AstraPay pada 15 September mendatang.

Kendati prospektif dan beririsan langsung dengan bisnis utamanya, terjun ke segmen dompet digital bukanlah hal mudah bagi ASII. Sebab mereka juga mesti bersaing dengan nama-nama tenar seperti Gopay, Shopeepay, OVO, Linkaja hingga DANA.

Pembahasan selanjutnya dapat Anda baca di sini.

bbhi

Kantor Bank Harda Internasional, yang kini sudah berubah nama menjadi Allo Bank Indonesia./bankbhi.co.id

 

2. Menanti Duel Bank Mini Chairul Tanjung (BBHI) vs Hary Tanoe (BABP)

Pada Kamis (9/9/2021), PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) mengumumkan rencana mereka untuk menggalang dana senilai Rp1 triliun via rights issue. Rencana ini langsung disambut positif oleh investor, yang tampak dari penguatan harga saham BBHI hingga akhir sesi.

Berada di bawah bendera Mega Corpora dan Transcorp milik Chairul Tanjung, rights issue tersebut bakal menjadi jalan perseroan untuk membesarkan diri dan memenuhi aturan OJK. Termasuk juga untuk mendekatkan diri dengan kompetitor sesama bank mini milik taipan media, PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP).

Sebelum BBHI mengumumkan rights issue, BABP telah lebih dulu melenggang. Belum lama ini, mereka pun telah mendapat restu dari OJK untuk mengeksekusi rights issue senilai Rp4,56 triliun.

Pembahasan selanjutnya tentang BBHI vs BABP dapat Anda baca di sini.

batu bara

Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020)./ANTARA FOTO-Syifa Yulinnas

 

3. Harga Batu Bara Meroket, Emiten Semen Masih Prospektif?

Tren kenaikan harga batu bara yang tak juga terbendung berpotensi mendatangkan dampak negatif terhadap industri manufaktur. Termasuk perusahaan-perusahaan semen, yang bakal merogoh kocek lebih dalam untuk menebus bahan baku dan ongkos produksi.

Pada September ini, Harga Batu bara Acuan (HBA) mencapai US$150,03 per ton seiring kenaikan permintaan batu bara dari China. Angka tersebut naik US$19,04 per ton dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar US$130,99 per ton.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) menilai HBA yang tinggi bukan saja akan membuat laba perseroan-perseroan turun, tapi juga membuat perusahaan semen berpotensi sulit melakukan ekspansi.

Situasi yang pelik juga bisa berujung terhadap kegagalan pemenuhan kebutuhan semen dalam negeri. Sebab, di atas kertas perusahaan akan cenderung memilih melakukan ekspor lantaran harga jual di luar negeri biasanya lebih tinggi ketimbang di dalam negeri.

Pembahasan selanjutnya dapat Anda baca di sini.

ihsg

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (29/6/2021)./Bisnis-Fanny Kusumawardhani

 

4. Ironi Rekor Investor Saham vs Stagnasi IHSG September, Siapa Dalangnya?

Pertumbuhan jumlah investor saham yang mencetak rekor pada 2021 belum mendongkrak laju indeks harga saham gabungan (IHSG). 

Bursa Efek Indonesia telah memiliki investor saham sebanyak 2,67 juta single investor identification (SID) sampai dengan 31 Agustus 2021. Otoritas bursa melaporkan sepanjang tahun ini sudah ada 1 juta investor saham yang mendaftar sekaligus menjadi rekor tertinggi dalam 44 tahun terakhir.

Sayangnya, catatan gemilang itu belum tecermin di pergerakan IHSG periode berjalan 2021. Indeks komposit tercatat baru menguat 1,49 persen year-to-date (ytd) ke level 6.068,22 sampai dengan akhir sesi Kamis (9/9/2021). Pergerakan IHSG masih tertahan di kisaran 6.000. Level resistance secara ytd hanya berada di 6.500.

Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai ada beberapa faktor yang memicu pertumbuhan investor saham. Salah satunya yakni tingkat suku bunga deposito yang rendah.

Di lain pihak, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan kemudahan membuka rekening secara daring atau online serta rendahnya suku bunga membuat banyak orang mencari penghasilan tambahan lewat investasi saham di tengah pandemi Covid-19.

Pembahasan selanjutnya dapat Anda baca di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG astra bank mnc internasional Emiten Semen Allo Bank
Editor : Annisa Margrit
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top