Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sentimen Tapering Off Sudah Diantisipasi Pasar, Reksa Dana Pendapatan Tetap Masih Akan Cuan

Hal tersebut terlihat dari penguatan imbal hasil (yield) dari Surat Utang Negara (SUN) Indonesia yang menguat hingga ke kisaran 6,1 persen meski sempat bergerak ke level 6,4 persen pada pekan lalu.
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis/Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Pengaruh rencana tapering yang akan dilakukan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve dinilai telah diperhitungkan oleh pasar (priced in).

Direktur Utama PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra menjelaskan, sepanjang Agustus lalu, kinerja reksa dana pendapatan tetap masih cukup positif. Hal tersebut terlihat dari penguatan imbal hasil (yield) dari Surat Utang Negara (SUN) Indonesia yang menguat hingga ke kisaran 6,1 persen meski sempat bergerak ke level 6,4 persen pada pekan lalu.

Guntur meyakini, kinerja reksa dana pendapatan tetap masih akan positif sepanjang tahun 2021 meski dibayangi sentimen tapering off yang akan dilakukan The Fed. Ia menjelaskan, sentimen ini tidak akan menimbulkan dampak terlalu signifikan mengingat The Fed telah memberikan sinyal akan mulai melakukan tapering di tahun ini.

“Isu tapering off sudah priced-in dan secara impact harusnya tidak seburuk jika dibandingkan dengan tahun 2013 karena porsi kepemilikan asing di SBN juga tidak sebesar di tahun 2013,” jelasnya saat dihubungi pada Rabu (1/9/2021).

Selain itu, Bank Indonesia juga telah sepakat untuk melanjutkan burden sharing dengan Pemerintah Indonesia. Menurutnya, hal ini merupakan langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya capital outflow dan menjaga stabilitas pasar.

Meski demikian, kelanjutan burden sharing ini juga menimbulkan risiko tersendiri. Menurut Guntur, hal ini menimbulkan potensi peringkat utang negatif baik dari S&P maupun lembaga pemeringkat utang lainnya yang dapat mempengaruhi rating untuk Indonesia.

Guna menjaga kinerja produknya, Guntur mengatakan Pinnacle melakukan strategi active duration dan fokus melakukan penyesuaian durasi portofolio. Secara taktis, portofolio akan diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan pandangan Pinnacle terhadap makroekonomi dan pergerakan suku bunga.

Ia melanjutkan, pihaknya juga masih menjatuhkan pilihan pada surat berharga negara sebagai aset dasar produknya. Hal ini mengingat potensi penguatan imbal hasil (yield) yang masih terbuka hingga akhir tahun ini serta risiko yang cenderung rendah.

“Obligasi pemerintah masih menjadi pilihan kami. Karena, salah satu faktor risiko yang kami utamakan adalah dari sisi likuiditas,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper